Ekonom Sorot Keberlanjutan Fiskal setelah Outlook Negatif Moody's
Rabu, 11 Februari 2026 | 17:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perwakilan Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Wijayanto Samirin mengingatkan pemerintah agar memperkuat keberlanjutan fiskal menyusul langkah Moody's Ratings yang menurunkan outlook atau prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Menurut Wijayanto, kondisi fiskal harus dicermati secara realistis, terutama terkait rasio pajak (tax ratio) yang stagnan bahkan cenderung menurun, pelebaran defisit, serta belanja besar untuk proyek-proyek strategis yang dinilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Terkait dengan tax ratio yang terus stagnan dan cenderung turun, defisit yang melejit, apalagi spending luar biasa besar untuk proyek-proyek strategis yang ini membebani APBN kita. Jadi sudah saatnya pemerintah untuk realistis memotret APBN. Jadi ego perlu dimasukkan kandang," tegas Wijayanto dalam The Forum: B-Universe Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ia menekankan pentingnya kebijakan yang tepat untuk menjaga kesinambungan fiskal ke depan. Selain itu, komunikasi pemerintah kepada publik dan investor dinilai menjadi faktor krusial.
"Apapun yang kita lakukan, apapun yang dilakukan pemerintah, public investor itu melihat dari apa yang dikomunikasikan. Perbaiki komunikasi itu satu hal," ujarnya.
Wijayanto juga menyoroti kepastian dan prediktabilitas kebijakan yang dinilai kerap muncul mendadak tanpa penjelasan memadai.
"Tidak tahu analisisnya seperti apa, teknokrasinya seperti apa, dampak analisisnya seperti apa. Nah hal-hal yang merupakan surprise seperti ini harus dikurangi. Karena bagi investor, bagi Moody's ini adalah wujud uncertainty iklim perusahaan di Indonesia," paparnya.
Ia menambahkan, laporan Moody’s terhadap Indonesia terakhir disampaikan pada 2018. Menurutnya, munculnya kembali penilaian tersebut pada tahun ini menunjukkan urgensi situasi yang perlu dicermati serius.
Wijayanto juga menunggu sikap lembaga pemeringkat lain seperti S&P Global Ratings.
"Biasanya yang lebih agresif itu S&P, dia lebih sering menyampaikan review. Nah ini kita tunggu review S&P akan seperti apa, tetapi dalam prediksi saya, review S&P tidak akan berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Moody's," imbuhnya.
Ia menilai sejumlah perkembangan belakangan ini menunjukkan konsistensi kekhawatiran pelaku pasar global, termasuk penundaan review oleh MSCI dan FTSE Russell, serta penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs, Nomura, dan UBS.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




