3 Strategi KKP Capai Swasembada Garam
Kamis, 12 Februari 2026 | 15:51 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempercepat target swasembada garam pada 2027 melalui tiga strategi utama. Langkah ini ditempuh untuk mendongkrak produksi nasional, menekan ketergantungan impor bagi kebutuhan industri, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petambak.
Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menjelaskan, kebijakan tersebut difokuskan pada kemandirian produksi dan perbaikan taraf hidup petambak.
“Tujuan strategi pemerintah adalah mencapai swasembada garam dan meningkatkan kesejahteraan petambak. Untuk mengejar target 2027, kami menyiapkan tiga strategi utama,” ujar Frista dilansir dari Antara, Kamis (12/2/2026).
Ia merinci, tiga strategi tersebut mencakup ekstensifikasi, intensifikasi, serta pengembangan teknologi produksi. Ketiganya dirancang untuk menaikkan kapasitas sekaligus mutu garam nasional secara berkelanjutan dan terukur.
KKP menargetkan swasembada garam nasional pada 2027 sejalan dengan kebutuhan yang diperkirakan mencapai 4,9 juta hingga 5,2 juta ton per tahun. Saat ini, sekitar 50%–60% kebutuhan masih dipenuhi melalui impor, terutama untuk sektor industri.
Ketergantungan impor paling besar terjadi pada garam industri, seperti chlor alkali plant (CAP) dan industri pangan, yang mensyaratkan spesifikasi tinggi. Produksi dalam negeri dinilai belum optimal, baik dari sisi volume maupun kualitas, sehingga belum mampu sepenuhnya memenuhi standar industri.
Dalam beberapa tahun terakhir, produksi garam nasional berfluktuasi dengan rata-rata sekitar 2 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan mendekati 5 juta ton, terdapat selisih sekitar 3 juta ton yang belum dapat dipenuhi produksi domestik.
Menurut Frista, kondisi tersebut dipengaruhi kemampuan produksi yang masih bergantung pada cuaca. Data menunjukkan produksi naik turun setiap tahun mengikuti kondisi iklim.
Penurunan produksi juga dipicu metode tradisional yang masih dominan digunakan petambak. Sentra garam umumnya hanya memiliki lima hingga enam bulan musim panas, sehingga proses produksi tidak berlangsung sepanjang tahun.
Dari sisi mutu, kualitas garam rakyat juga belum seragam karena melibatkan sekitar 25.000 petambak dengan kemampuan berbeda. Kadar NaCl rata-rata tertinggi sekitar 94%, sedangkan industri memerlukan minimal 97%, bahkan untuk farmasi bisa mencapai 99%.
Frista menambahkan, untuk garam konsumsi, Indonesia telah mencapai swasembada sejak 2012. Namun, kebutuhan garam industri yang besar dengan spesifikasi tinggi masih menjadi tantangan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




