ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Teknologi Lanjutan Jadi Harapan Tingkatkan Lifting Migas

Kamis, 12 Februari 2026 | 23:38 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi alat pompa minyak bumi.
Ilustrasi alat pompa minyak bumi. (AFP)

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah mengandalkan pemanfaatan teknologi lanjutan untuk meningkatkan produksi atau lifting minyak dan gas bumi (migas) nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah berkomitmen menaikkan lifting migas, meski realisasi lifting minyak bumi pada 2025 telah mencapai 605,3 ribu barel per hari atau melampaui target APBN.

Menurutnya, salah satu kunci optimalisasi peningkatan lifting migas adalah penerapan teknologi lanjutan pada sumur eksisting, seperti enhanced oil recovery (EOR), fracking, dan horizontal drilling.

“Untuk meningkatkan lifting, mau tidak mau, harus kita suntik dengan teknologi. Sumur-sumur yang sudah lama ini kita suntik pakai teknologi, enggak ada cara lain. EOR salah satunya,” ujar dilansir dari Antara, Kamis (12/2/2026).

ADVERTISEMENT

Namun, ia mengakui penerapan teknologi lanjutan kerap terkendala aspek keekonomian. Karena itu, pemerintah memberikan fleksibilitas skema kontrak kerja sama bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang menjalankan kegiatan eksplorasi dan operasi produksi.

KKKS diperbolehkan memilih skema kontrak kerja sama berbentuk gross split atau cost recovery.

“Kebijakan ini adalah jalan tengah untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional, sekaligus mengoptimalkan upaya menuju ketahanan energi,” jelasnya.

Ia menegaskan kegiatan negara tidak semata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus menjamin pelayanan, ketersediaan, dan ketahanan energi bagi masyarakat.

“Negara itu tidak hanya bicara tentang berapa profitnya, negara itu enggak boleh bicara hanya profit oriented. Tetapi negara juga harus bicara tentang pelayanan, ketersediaan, dan ketahanan. Kita ini melayani rakyat, kalau ada profit itu multiplier effect,” tegasnya.

Langkah kedua yang ditempuh pemerintah adalah mendorong pengelolaan sumur tua (idle well). Saat ini terdapat 6.305 sumur idle yang memiliki potensi hidrokarbon, dengan 787 sumur dapat direaktivasi dan 3.972 sumur berpotensi untuk dikerjasamakan. “Upaya ini penting untuk mendorong penambahan produksi minyak Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah mempercepat realisasi proyek yang telah menyelesaikan rencana pengembangan atau plan of development (POD), tetapi belum masuk tahap konstruksi dan produksi. Pemerintah akan bersikap tegas terhadap KKKS yang belum melaksanakan pekerjaan meski izin telah diperoleh.

Sebagai strategi jangka panjang, pemerintah juga mendorong percepatan eksplorasi potensi migas di Indonesia timur.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pertamina EP Catatkan Produksi Migas 205.000 Barel pada 2025

Pertamina EP Catatkan Produksi Migas 205.000 Barel pada 2025

EKONOMI
Pertamina EP Limau Field Berhasil Tambah Produksi Migas 12 Persen

Pertamina EP Limau Field Berhasil Tambah Produksi Migas 12 Persen

EKONOMI
Pertamina Temukan Potensi 11 Miliar Barel Migas Nonkonvensional

Pertamina Temukan Potensi 11 Miliar Barel Migas Nonkonvensional

EKONOMI
IPA Convex 2026 Perkuat Investasi Migas dan Ketahanan Energi

IPA Convex 2026 Perkuat Investasi Migas dan Ketahanan Energi

EKONOMI
Bahlil Sebut Hilirisasi Jadi Tangga Menuju Negara Maju

Bahlil Sebut Hilirisasi Jadi Tangga Menuju Negara Maju

EKONOMI
Lifting Minyak Capai Target, Bahlil: Ini Fakta

Lifting Minyak Capai Target, Bahlil: Ini Fakta

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon