Menkeu: Ruang Fiskal APBN Masih Aman meski Harga Minyak Naik
Rabu, 11 Maret 2026 | 22:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah memastikan ruang fiskal APBN 2026 masih cukup kuat meskipun harga minyak dunia sempat melonjak hingga mendekati US$ 120 per barel.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Y Sadewa menjelaskan secara rata-rata harga minyak sejak awal tahun hingga saat ini berada di level US$ 68,8 per barel. Angka tersebut masih berada di bawah asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel.
“Realisasi harga minyak mentah Indonesia hingga Februari sebesar US$ 68,8 per barel. Estimasi kami, realisasi ICP secara year to date hingga Maret 2026 sekitar US$ 68 per barel,” kata Menkeu Purbaya Y Sadewa dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut Purbaya, perhitungan tersebut juga telah memperhitungkan lonjakan harga minyak yang sempat menyentuh US$ 120 per barel dalam waktu singkat. “Ini sudah memasukkan kenaikan hingga US$ 120 per barel yang sebentar itu. Ini masih di bawah asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, ia menegaskan ruang fiskal dalam APBN masih aman sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap belanja negara, termasuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026,” tegas Purbaya.
Ia juga memastikan pemerintah belum perlu melakukan perubahan terhadap APBN 2026 meskipun harga minyak sempat meningkat tajam.
“Harga minyak sudah US$ 100 per barel, apakah pemerintah akan mengubah APBN? Belum. Kalau kita lihat di sini, rata-rata harga minyak mentah masih US$ 68 per barel,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus mencermati dampak konflik di Timur Tengah terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Menurut dia, pemerintah tetap perlu mewaspadai potensi harga minyak yang bergerak di kisaran US$ 90 hingga US$ 100 per barel, terutama jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut.
“Tetap kita harus waspadai risiko harga minyak di sekitar US$ 90 hingga US$ 100 per barel. Apalagi kalau gangguan di Selat Hormuz itu berkelanjutan. Namun kita juga lihat kemungkinan harga minyak kembali ke sekitar US$ 70 atau US$ 80 per barel,” kata Suahasil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




