ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

60 Persen BBM RI Impor, Masyarakat Diminta Hemat Energi

Minggu, 19 April 2026 | 12:05 WIB
BB
AD
Penulis: Basudiwa Supraja Sangga B | Editor: AD
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU kawasan Jakarta Timur.
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU kawasan Jakarta Timur. (Beritasatu.com/Joanito De Saojoao.)

Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesadaran bahwa sebagian besar bahan bakar minyak (BBM) yang dikonsumsi di Indonesia merupakan komoditas impor. Ketergantungan terhadap pasar global membuat pasokan energi nasional sangat dipengaruhi oleh kondisi politik internasional.

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi mengatakan, sekitar 60% kebutuhan minyak mentah Indonesia didatangkan dari luar negeri. Fakta ini menjadikan BBM sebagai barang mahal yang penggunaannya harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.

“Masyarakat harus punya kesadaran bahwa ini adalah barang impor sehingga penggunanya harus hati-hati,” tutur Tulus kepada Beritasatu.com, Minggu (19/4/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengingatkan bahwa energi fosil memiliki keterbatasan jumlah dan akan terus mengalami peningkatan nilainya di masa depan. Tulus juga menyoroti tantangan lain, seperti krisis iklim yang memaksa dunia untuk mulai beralih dari energi fosil.

Penghematan konsumsi BBM bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga langkah penting dalam menghadapi isu lingkungan global. Masyarakat diharapkan dapat mengelola pengeluaran transportasi dan logistik secara lebih bijak di tengah tren ketidakstabilan harga.

Kesadaran untuk tidak boros energi menjadi kunci bagi ketahanan ekonomi tingkat rumah tangga. Tulus mendorong Pemerintah dan operator juga terus mengedukasi masyarakat mengenai tantangan geopolitik yang berdampak langsung pada harga bahan bakar.

Penjelasan yang jujur ​​tentang kondisi fiskal menurut Tulus akan membantu masyarakat memahami urgensi penyesuaian harga yang dilakukan. Langkah itu diyakini dapat setidaknya meringankan iklim  BBM yang krusial di tengah tekanan global.

"Saat ini atau bahkan ke depan (BBM) akan menjadi barang yang mahal karena kita masih impor. Kita belum bisa memproduksi dengan kebutuhan yang kita punya dan ada tekanan-tekanan eksternal yang cukup keras dari sisi geopolitik global ataupun krisis iklim yang saat ini juga sangat tinggi," tambah Tulus.

Hal ini lantas menjadi peringatan agar diversifikasi energi mulai dipikirkan secara serius oleh seluruh lapisan masyarakat. Penggunaan BBM yang tepat sasaran dan hemat tentunya akan membantu negara dalam menjaga integritas energi nasional.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

DEN: Pelemahan Rupiah Tak Berimbas ke Subsidi BBM dan LPG

DEN: Pelemahan Rupiah Tak Berimbas ke Subsidi BBM dan LPG

EKONOMI
Indonesia Segera Impor Minyak Rusia, Bahlil: Kontrak Sudah Jadi

Indonesia Segera Impor Minyak Rusia, Bahlil: Kontrak Sudah Jadi

EKONOMI
RI Impor Minyak Rusia, Apa Kabar dengan AS?

RI Impor Minyak Rusia, Apa Kabar dengan AS?

EKONOMI
Bahlil Lapor Prabowo: RI Segera Amankan Minyak dan LPG dari Rusia

Bahlil Lapor Prabowo: RI Segera Amankan Minyak dan LPG dari Rusia

EKONOMI
Penutupan Selat Hormuz Tak Lantas Buat RI Kehabisan BBM

Penutupan Selat Hormuz Tak Lantas Buat RI Kehabisan BBM

EKONOMI
Iran Buka Akses Selat Hormuz jika Dubes AS Diusir, Ini Respons Bahlil

Iran Buka Akses Selat Hormuz jika Dubes AS Diusir, Ini Respons Bahlil

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon