10 Negara Terkuat Hadapi Krisis Global 2026, Indonesia Masuk Jajaran
Senin, 27 April 2026 | 13:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Krisis energi global pada 2026 menjadi tantangan besar bagi banyak negara. Gangguan distribusi energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah memaksa setiap negara menguji ketahanan energinya, termasuk Indonesia yang menunjukkan posisi cukup kuat.
Dampaknya terasa luas, terutama di kawasan Asia yang bergantung pada impor energi. Sejumlah negara menerapkan langkah darurat seperti pembatasan bahan bakar dan penghematan energi.
Namun, tidak semua negara berada dalam kondisi yang sama.
Ketahanan energi suatu negara dalam menghadapi krisis global tercermin dalam laporan JPMorgan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026. Studi ini menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82% konsumsi energi global.
Penilaian dilakukan menggunakan indikator total insulation factor, yakni ukuran komposit yang menggambarkan seberapa besar porsi energi suatu negara yang tidak bergantung pada minyak dan gas global.
Indikator ini menggabungkan empat komponen utama, yaitu produksi gas domestik, produksi batu bara domestik, pembangkit nuklir, serta energi terbarukan sebagai bagian dari konsumsi energi akhir nasional.
Indonesia Masuk Jajaran Negara Paling Tangguh
Dalam laporan tersebut, Indonesia mencatatkan skor insulation factor sebesar 77%. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua, hanya sedikit di bawah Afrika Selatan (79%) dan berada di atas Tiongkok (76%) serta Amerika Serikat (70%).
Kekuatan Indonesia dalam menghadapi krisis energi global ditopang oleh dominasi sumber energi domestik. Batu bara menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 48% dari konsumsi energi nasional, diikuti gas bumi sebesar 22% dan energi terbarukan sebesar 7%.
JPMorgan juga mengelompokkan Indonesia bersama Tiongkok, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina sebagai negara yang memperoleh manfaat signifikan dari produksi batu bara domestik selama periode guncangan energi.
Selain itu, tingkat ketergantungan Indonesia terhadap jalur distribusi energi global tergolong sangat rendah. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya sekitar 1% dari total konsumsi energi primer nasional.
Sebagai perbandingan, negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan memiliki ketergantungan hingga 33%, sementara Taiwan dan Thailand sekitar 27%, serta Singapura 26%.
Faktor Penopang Ketahanan Energi Indonesia
Ketahanan energi Indonesia tidak hanya berasal dari ketersediaan sumber daya domestik, tetapi juga dari struktur konsumsi energi yang relatif terlindungi. Sekitar 77% kebutuhan energi nasional dinilai terlindungi dengan komposisi:
- Batu bara: 48%.
- Gas: 22%.
- Energi terbarukan: 7%.
Pada sisi lain, impor minyak Indonesia tercatat sekitar 16%, sedangkan untuk gas Indonesia justru berstatus sebagai net eksportir (-8%).
Kondisi ini membuat dampak krisis energi global terhadap Indonesia relatif lebih terbatas dibandingkan banyak negara lain.
Meski demikian, risiko tetap ada. Tingginya konsumsi minyak yang sebagian masih dipenuhi melalui impor membuat perekonomian tetap sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Negara Paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026
Berikut daftar negara dengan ketahanan energi terbaik berdasarkan laporan JPMorgan:
- Afrika Selatan: 79%
- Indonesia: 77%
- China: 76%
- Amerika Serikat: 70%
- Australia: 68%
- Swedia: 66%
- Pakistan: 65%
- Rumania: 64%
- Peru: 63%
- Kolombia: 60%
Secara umum, negara dengan produksi energi domestik yang kuat serta ketergantungan impor yang rendah memiliki posisi lebih stabil dalam menghadapi krisis energi global.
Respons Pemerintah Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif lintas kementerian dan lembaga dalam menjaga ketahanan energi nasional.
“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi. Di tengah volatilitas harga energi global, posisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 dan membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha,” ujarnya, dikutip dari laman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Lebih lanjut, pemerintah menegaskan akan terus memperkuat berbagai kebijakan strategis, antara lain optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas, percepatan pengembangan energi baru terbarukan sesuai RUKN dan RUPTL, serta perluasan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai.
Selain itu, diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi juga menjadi fokus utama untuk memperkuat ketahanan terhadap risiko geopolitik global.
Krisis energi global 2026 menjadi ujian besar bagi banyak negara. Namun, Indonesia menunjukkan posisi yang relatif kuat berkat dominasi energi domestik dan rendahnya ketergantungan terhadap impor.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




