ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indef Desak BPS Terbitkan Data Pengangguran

Jumat, 16 Oktober 2015 | 19:17 WIB
YP
FH
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: FER
Ilustrasi pengangguran.
Ilustrasi pengangguran. (Freedigitalphotos/ Winnond)

Jakarta - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mendesak Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menerbitkan data jumlah pengangguran di Indonesia. Data tersebut, menurut Indef, dapat digunakan untuk menilai kinerja pemerintahan Jokowi-JK dalam menekan angka pengangguran.

"Padahal, biasanya diumumkan pada bulan Juli setiap tahunnya, karena data-data dari survei tersebut seharusnya menjadi acuan evaluasi kinerja pemerintah yang disampaikan dalam pidato kenegaraan presiden dan penyampaian nota keuangan," ujar peneliti Indef Dzulfian Syafrian di Jakarta, Jumat (16/10).

Dzulfian mengatakan, hasil survei sosial ekonomi yang dilakukan BPS, seperti tingkat pengangguran dan kemiskinan, dapat menjadi acuan untuk tentang perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat. Indef, kata dia, mempertanyakan alasan mengapa sampai saat ini BPS belum juga mengumumkan hasil surveinya.

"Dan mengapa Presiden dalam pidatonya tidak menyinggung informasi dan data tentang kemiskinan dan pengangguran," tandasnya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, dia mengatakan, jangan sampai BPS mengundur pengumuman data pengangguran penduduk Indonesia termasuk data kemiskinan karena kinerja pemerintahan Jokowi-JK semakin memburuk. Pasalnya, data setahun terakhir terjadi penurunan indikator kesejahteraan masyarakat.

"Tingkat kemiskinan meningkat dari 10,96 persen pada bulan September 2014 menjadi 11,50 persen pada Maret 2015. Sedangkan pengangguran terbuka meningkat dari 7,1 persen pada semester I tahun 2014 menjadi 7,5 persen pada semester I tahun 2015," jelasnya.

"Selain itu terjadi tingkat kesenjangan ekonomi yang melebar di mana indeks Gini Ratio meningkat dari 0,41 menjadi 0,42 lebih parah dari negara liberal seperti Amerika," tambahnya.

Indef menyatakan, meningkatnya jumlah penduduk miskin dan jumlah pengangguran akibat sejumlah faktor, antara lain penurunan pertumbuhan ekonomi di semester pertama tahun ini, tingginya tingkat inflasi terutama inflasi bahan makanan, gagalnya program pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kebijakan Tepat Kunci Jaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tantangan

Kebijakan Tepat Kunci Jaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tantangan

EKONOMI
Keberhasilan Program B50 Bergantung pada Penerimaan Masyarakat

Keberhasilan Program B50 Bergantung pada Penerimaan Masyarakat

EKONOMI
Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

EKONOMI
Perang Dorong Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik, Masyarakat Harus Siap

Perang Dorong Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik, Masyarakat Harus Siap

EKONOMI
Indef Ingatkan Roadshow RI ke AS Harus Diikuti Kredibilitas Kebijakan

Indef Ingatkan Roadshow RI ke AS Harus Diikuti Kredibilitas Kebijakan

EKONOMI
RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu

RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon