Keberhasilan Program B50 Bergantung pada Penerimaan Masyarakat
Senin, 27 April 2026 | 10:54 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah menargetkan implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari percepatan bauran energi terbarukan. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, khususnya solar, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengamat energi dari Indef, Abra Talattov, menilai pemerintah cukup percaya diri dalam menjalankan program tersebut. Namun, ia mengingatkan keberhasilan implementasi B50 tidak hanya bergantung pada kesiapan pasokan, tetapi juga penerimaan masyarakat.
Selain biodiesel, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol sebagai bagian dari diversifikasi energi. Namun, Abra menilai tantangan utama masih terletak pada ketersediaan bahan baku untuk produksi.
Abra menegaskan, aspek penerimaan konsumen menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan dalam implementasi biofuel.
“Bagaimana penerimaannya dari konsumen terhadap produk tersebut, jangan sampai nanti barangnya sudah disediakan tetapi penerimaannya itu masih relatif resisten dari konsumen,” kata Abra kepada Beritasatu.com, Senin (27/4/2026).
Ia menambahkan, pemerintah perlu melakukan edukasi dan sosialisasi agar masyarakat memahami manfaat dan keamanan penggunaan biofuel.
“Jadi memang harus diimbangi antara sisi suplainya dari pemerintah dan juga meyakinkan kepada konsumen bahwa pemanfaatan biofuel tadi itu layak dan memang tidak merugikan dari sisi konsumen,” tegas Abra.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
BNN Minta Kemenkomdigi Blokir Situs Terindikasi Kejahatan Narkotika




