RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu
Selasa, 14 April 2026 | 20:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor pupuk hingga 1,5 juta ton sampai 2 juta ton di tengah terganggunya distribusi global akibat konflik di Timur Tengah.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan, peluang tersebut didukung kapasitas produksi pupuk nasional yang mencapai sekitar 14,8 juta ton per tahun, termasuk sekitar 9,4 juta ton pupuk urea.
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai eksportir pupuk, khususnya urea, dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun dan potensi ekspor sekitar 1,5-2 juta ton setelah kebutuhan domestik aman,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (14/4/2026).
Menurut Esther, peluang ekspor terbuka karena masih terdapat sisa produksi komersial setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Kondisi ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk masuk ke pasar global yang tengah mengalami gangguan pasokan.
Ia menyebut sejumlah negara yang berpotensi menjadi tujuan ekspor, antara lain India, Australia, dan Filipina. Selain itu, peluang juga terbuka untuk ekspor pupuk organik ke berbagai negara.
“Faktor pendukung utama Indonesia sebagai eksportir pupuk, khususnya urea, adalah tingginya kapasitas produksi nasional yang melebihi kebutuhan domestik,” jelasnya.
Selain kapasitas produksi, Indonesia juga didukung oleh ketersediaan bahan baku, meningkatnya permintaan global akibat gangguan distribusi, serta efisiensi industri pupuk nasional yang memungkinkan sebagian produksi dialokasikan untuk ekspor.
Esther menilai peluang ini dapat memberikan manfaat ekonomi berupa tambahan devisa sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar pupuk global.
Pada sisi lain, ekspor pupuk juga berpotensi mendukung ketahanan pangan regional dengan membantu memenuhi kebutuhan negara lain yang mengalami kekurangan pasokan.
Namun, ia mengingatkan pemerintah untuk tetap mengutamakan kebutuhan dalam negeri sebelum meningkatkan ekspor.
“Pemerintah harus tetap memprioritaskan kebutuhan domestik, sehingga ekspor dilakukan saat stok dalam negeri aman, menjaga stabilitas harga dan produksi petani,” tegasnya.
Menurutnya, pengelolaan ekspor yang tepat menjadi kunci agar peluang pasar global dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.
“Petani domestik tetap harus diprioritaskan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi guna menjaga produktivitas pertanian,” tambah Esther.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan Indonesia siap mengekspor sekitar 1,5 juta ton pupuk seiring terganggunya jalur distribusi global di Selat Hormuz akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Gangguan tersebut terjadi karena sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia melewati jalur tersebut, sehingga banyak negara mengalami kesulitan pasokan dan mulai mencari alternatif dari Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan peluang pasar global, sekaligus menjaga keseimbangan antara ekspor dan kebutuhan domestik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




