ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bahas Pasokan Pupuk Urea, Kedubes Australia Temui Wamentan

Rabu, 15 April 2026 | 21:58 WIB
EM
MK
Penulis: Erfan Maruf | Editor: MBK
Ilustrasi pupuk.
Ilustrasi pupuk. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia guna membahas peluang kerja sama sektor pertanian, khususnya terkait pasokan pupuk.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan potensi ekspor pupuk di tengah gejolak global yang memengaruhi rantai pasok komoditas strategis.

Sudaryono menjelaskan, gangguan distribusi global terjadi akibat konflik yang berdampak pada pembatasan jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi pupuk dunia.

“Dengan adanya kondisi konflik dan terganggunya Selat Hormuz, suplai pupuk global ikut terdampak. Namun untuk Indonesia, kami pastikan ketersediaan pupuk tetap aman,” ujar Sudaryono di kantor Kementerian Pertanian, Rabu (15/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan, kebutuhan pupuk nasional didominasi oleh pupuk nitrogen atau urea, yang bahan bakunya berasal dari gas alam domestik. Dengan ketersediaan tersebut, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan urea tanpa bergantung pada impor.

Sementara itu, untuk komponen lain seperti fosfat dan kalium, Indonesia masih mengandalkan impor. Meski demikian, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan dari berbagai negara sehingga tidak bergantung pada satu kawasan tertentu.

“Untuk urea, kita mandiri karena bahan bakunya gas alam yang tersedia di dalam negeri. Sedangkan fosfat dan kalium memang masih impor, tetapi sumbernya beragam,” jelasnya.

Sudaryono mengungkapkan, total produksi pupuk nasional mencapai sekitar 14,5 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 14 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus urea sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor.

Meski demikian, ia menegaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama sebelum melakukan ekspor. “Kebutuhan dalam negeri adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisanya dapat diekspor,” tegasnya.

Selain Australia, sejumlah negara lain juga telah menyatakan minat untuk mengimpor urea dari Indonesia, antara lain India, Filipina, dan Brasil. Permintaan tersebut meningkat seiring kenaikan harga pupuk global yang kini mencapai sekitar US$ 900 per ton.

“Kami melihat banyak negara mencari suplai karena distribusi terganggu. Pupuk tetap dibutuhkan karena menjadi komponen utama dalam produksi pangan,” katanya.

Pemerintah, lanjut Sudaryono, akan berhati-hati dalam menentukan volume ekspor agar tidak mengganggu pasokan domestik, terutama dalam menghadapi musim tanam serta potensi dampak perubahan iklim.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu

RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu

EKONOMI
Mentan Ungkap 3 Negara Minat Pupuk RI karena Selat Hormuz Ditutup

Mentan Ungkap 3 Negara Minat Pupuk RI karena Selat Hormuz Ditutup

EKONOMI
Pasokan Pupuk Urea RI Aman di Tengah Perang dan Konflik Selat Hormuz

Pasokan Pupuk Urea RI Aman di Tengah Perang dan Konflik Selat Hormuz

EKONOMI
Perang Iran-Amerika Malah Untungkan Pupuk Urea Indonesia

Perang Iran-Amerika Malah Untungkan Pupuk Urea Indonesia

EKONOMI
Mentan: Penurunan Harga Pupuk Picu Lonjakan Pembelian Petani

Mentan: Penurunan Harga Pupuk Picu Lonjakan Pembelian Petani

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon