Kronologi 2 Kapal Lolos Blokade Hormuz, Klaim AS Dapat Ujian Serius
Rabu, 15 April 2026 | 20:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Klaim kontrol total Amerika Serikat atas Selat Hormuz kini menghadapi ujian serius di lapangan. Meskipun Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah menutup rapat seluruh akses menuju Iran, laporan terbaru pada Rabu (15/4/2026) ini menunjukkan bahwa dua kapal besar berhasil melintasi jalur tersebut dan memasuki perairan Iran tanpa hambatan fisik.
Diketahui, awal pekan ini, militer AS memang secara resmi memulai operasi "Lockdown" untuk mengisolasi pelabuhan-pelabuhan Iran. Centcom bahkan mengerahkan kekuatan masif, termasuk kapal serbu amfibi USS Tripoli dan jet tempur siluman F-35B, dengan instruksi tegas untuk mengusir setiap kapal yang terafiliasi dengan Iran. Dalam 24 jam pertama, AS mengklaim telah berhasil memaksa enam kapal niaga untuk berbalik arah di Teluk Oman.
Namun disebutkan Fars News, ketegangan memuncak pada Rabu pagi ketika sebuah kapal tanker minyak raksasa (VLCC) yang masuk dalam daftar sanksi AS terpantau mendekati Selat Hormuz. Berbeda dengan taktik penghindaran pada umumnya, kapal yang mampu mengangkut dua juta barel minyak mentah ini tetap mengaktifkan sistem identifikasi otomatis (AIS) miliknya.
“Kapal ini melintasi perairan internasional dan masuk ke wilayah Iran tanpa adanya intervensi fisik dari armada tempur AS yang bersiaga di kawasan tersebut,” tulis Fars News.
Tak lama setelah insiden tanker tersebut, laporan navigasi maritim kembali mencatat adanya kapal kedua yang berhasil menembus zona blokade. Sebuah kapal pengangkut curah (bulk carrier) yang membawa muatan bahan pangan terpantau memasuki Teluk Persia dari perairan terbuka. Kapal ini dilaporkan terus bergerak menuju Pelabuhan Imam Khomeini tanpa mendapatkan gangguan dari patroli udara maupun laut Amerika Serikat.
Keberhasilan dua kapal ini melintas menciptakan situasi yang kontradiktif. Di satu sisi, Cetncom terus memberikan pernyataan di media sosial bahwa "tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade." Namun, data pelacakan kapal secara real-time menunjukkan fakta sebaliknya. Lolosnya kedua kapal ini, terutama tanker minyak yang sedang disanksi, dianggap sebagai tantangan terbuka terhadap wibawa militer AS yang telah menempatkan ribuan personel di gerbang Selat Hormuz.
Peristiwa ini terjadi di saat sensitif, di mana Amerika Serikat dan Iran sedang mengupayakan jalur diplomasi di Islamabad, Pakistan. Keberhasilan kapal-kapal tersebut mencapai tujuan mereka tanpa intervensi militer memicu spekulasi mengenai efektivitas operasional blokade di lapangan. Di sisi lain, hal ini memberikan napas bagi logistik Iran yang saat ini sedang ditekan melalui kebijakan "Economic Fury" oleh Departemen Keuangan AS.
Hingga saat ini, pihak Washington belum memberikan penjelasan mendalam mengenai mengapa kedua kapal tersebut bisa melintas tanpa gangguan, sementara kapal-kapal lain diperintahkan untuk berbalik arah. Fokus kini tertuju pada respons AS selanjutnya, apakah mereka akan memperketat aturan pelibatan militer atau tetap menahan diri demi menjaga momentum pembicaraan damai yang sedang berlangsung.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Korban Perang di Iran dan Lebanon Tembus 5.500 Jiwa
UI Nonaktifkan 16 Mahasiswa FH Terkait Dugaan Kekerasan Verbal




