ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Blokade Selat Hormuz: Destroyer AS Paksa 2 Tanker Kembali ke Iran

Rabu, 15 April 2026 | 19:29 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Kapal perusak (destroyer) AS.
Kapal perusak (destroyer) AS. (US Naval Institute/US Naval Institute)

Washington, Beritasatu.com –  Amerika Serikat mulai menerapkan blokade terhadap Iran dengan mencegat kapal tanker minyak yang mencoba keluar dari wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan sehari setelah kebijakan Presiden Donald Trump resmi diberlakukan.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kapal perusak (destroyer) AS pada Selasa (14/4/2026) menghentikan dua kapal tanker yang berangkat dari pelabuhan Chabahar di Teluk Oman. Kedua kapal itu diperintahkan untuk berbalik arah melalui komunikasi radio.

Langkah ini menjadi bagian awal dari blokade yang bertujuan menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

ADVERTISEMENT

Blokade tersebut juga dikaitkan dengan upaya AS memaksa Iran menerima syarat untuk mengakhiri konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Salah satu tuntutannya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

Namun, efektivitas blokade ini masih dipertanyakan oleh para analis. Peneliti dari The Washington Institute for Near East Policy, Noam Raydan, menyebut data awal menunjukkan satu kapal tanker memang berbalik arah, tetapi situasi di lapangan masih belum jelas.

“Kita belum tahu seberapa efektifnya. Kita masih di hari kedua,” kata Raydan.

Menurut pejabat AS tersebut, dua kapal tanker itu merupakan bagian dari enam kapal dagang yang telah mematuhi perintah Komando Pusat AS untuk kembali ke pelabuhan Iran.

Komando Pusat AS menyatakan tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade sejak diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu Washington.

Operasi ini melibatkan kekuatan besar, termasuk lebih dari 10.000 personel militer, belasan kapal perang, dan puluhan pesawat tempur.

Militer AS menegaskan tetap mendukung kebebasan navigasi internasional, selama kapal-kapal tersebut tidak berlayar menuju atau dari Iran.

Kebijakan blokade diumumkan setelah kegagalan perundingan akhir pekan lalu. Dampaknya langsung terasa di pasar global, dengan harga minyak sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel sebelum kembali turun.

Sejumlah analis menilai langkah ini berisiko tinggi. Selain berpotensi memicu eskalasi militer, blokade juga dapat memperburuk gencatan senjata yang masih rapuh.

Ancaman Iran terhadap jalur pelayaran sebelumnya telah mendorong lonjakan harga minyak global hingga sekitar 50 persen. Konflik yang berlangsung juga telah menewaskan sekitar 5.000 orang.

Meski serangan militer AS disebut telah melemahkan kekuatan Iran, para analis menilai Teheran masih memiliki kapasitas untuk melakukan pembalasan.

Raydan memperingatkan kemungkinan respons Iran jika blokade berlangsung lama, termasuk serangan terhadap kapal atau negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. "Kita berada dalam masa ujian," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon