Industri Butuh Bunga Bank Kompetitif
Jumat, 13 November 2015 | 19:37 WIB
Jakarta — Pelaku industri di Indonesia membutuhkan dukungan permodalan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produksi serta memperkuat daya saing. Untuk itu, bunga pinjaman perbankan seharusnya lebih kompetitif.
"Di saat kita harus bersaing secara terbuka dan prospek industri serta investasi berhasil dijaga, bunga bank belum mendukung pengembangan industri. Bank-bank kita masih belum ramah dengan rekan-rekan industri," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin dalam keterangan resmi, Jumat (13/11).
Menperin kemarin menghadiri rapat koordinasi pemerintah pusat, pemda dan Bank Indonesia di Yogyakarta. Pada kesempatan itu, dia mengatakan, besaran bunga dari bank di Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara lain, termasuk di kawasan Asean
Bunga bank yang tinggi juga juga merupakan beban keuangan tersendiri. Hal ini tentu turut menggerus daya saing dan mempengaruhi harga jual. "Jika bunga diturunkan, biaya nya akan turun. Ini bukan hanya untuk industri besar tapi juga berpengaruh bagi industri kecil dan menengah," kata Saleh.
Khusus untuk IKM, pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi III memperluas pemberian kredit modal kerja. Bunga kredit usaha rakyat (KUR) diturunkan dari 22% menjadi 12% pertahun dan pada tahun depan menyusut menjadi 9%.
Selain menyoal pinjaman lembanga keuangan, Menperin juga menyebutkan faktor pemacu pertumbuhan industri, yaitu ketersediaan energi dengan harga yang kompetitif, ketersediaan infrastruktur baik jalan, pelabuhan, listrik, serta biaya logistik yang bersaing.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, pertumbuhan Industri pengolahan non-migas kuartal III-2015 mencapai 5,21%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi sebesar 4,73%. Ekspor produk hasil industri per Agustus 2015 mencapai US$ 72,21 miliar, yang berkontribusi 70,44% terhadap total ekspor nasional. Pada periode yang sama, impor produk industri mencapai US$ 72,49 miliar, turun 11,75% dari periode sama tahun sebelumnya.
"Turunnya impor ditengarai karena adanya transformasi bahan baku yang tidak lagi banyak berasal dari impor, melainkan menggunakan produk dalam negeri. Artinya, agenda membangun industri substitusi impor mulai membuahkan hasil," ulas Menperin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




