ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Perkirakan NPI 2016 Surplus US$ 4 Miliar

Minggu, 21 Februari 2016 | 20:44 WIB
MW
B
Penulis: Margye J Waisapy | Editor: B1
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat (Dwelling Time) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 18 Februari 2016. Melalui Emplasement KA JICT waktu proses bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok menurun dari 7-8 hari menjadi 3,37 hari. Hal tersebut melebihi target yang ditetapkan presiden yaitu 4,7 hari.
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat (Dwelling Time) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 18 Februari 2016. Melalui Emplasement KA JICT waktu proses bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok menurun dari 7-8 hari menjadi 3,37 hari. Hal tersebut melebihi target yang ditetapkan presiden yaitu 4,7 hari. (Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta - Bank Indonesia (BI) optimistis, likuiditas di sistem neraca pembayaran Indonesia (NPI) semakin terjaga pada 2016 dengan mencetak surplus, kendati tidak sebesar yang terjadi pada periode 2014 yang mengalami surplus US$ 15,2 miliar.

Keyakinan ini didasarkan pada optimisme neraca modal dan finansial yang positif sehingga bisa menutupi kondisi transaksi berjalan (current account) yang diperkirakan defisitnya meningkat tajam pada 2016. Hal ini mengingat akselerasi pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah yang memungkinkan adanya peningkatan impor.

"Tahun 2016, kami perkirakan bisa surplus lagi US$ 4 miliar. Jadi overall bisa menambah likuiditas di sistem neraca pembayaran," ungkap Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di kantor BI Jakarta, Jumat (19/2).

Dia mengatakan, dengan adanya sejumlah kebijakan yang sudah ditempuh baik dari pemerintah dan bank sentral tentu akan mendukung terjaganya kondisi neraca modal dan finansial. Menurut dia, upaya pemerintah mengurangi beberapa Daftar Negatif Investasi (DNI) juga membuka peluang bagi investasi asing masuk sehingga bisa menambah likuiditas. Selain itu, adanya percepatan pengeluaran anggaran pemerintah untuk berbagai proyek prioritas tentu menambah likuiditas dalam negeri.

ADVERTISEMENT

Sementara BI sendiri telah melonggarkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) primer dari 7,5% menjadi 6,5% sehingga perbankan mempunyai penambahan likuiditas sekitar Rp 34 triliun yang bisa digunakan untuk menyalurkan kredit ke masyarakat.

Mirza menjelaskan, di tengah kondisi ekonomi global yang masih melambat, misalnya Tiongkok maupun Eropa tentu masih sulit mengharapkan penambahan likuiditas dari kinerja ekspor. Namun, BI tetap berharap, dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang semakain terjaga bisa mengundang lebih banyak portofolio masuk, melalui Surat Berharga Negara (SBN), bahkan obligasi korporasi dari luar negeri.

"Ke depan ini likuiditas mulai membaik, periode kemarin memang banyak capital outflow dan likuiditas ketat," ujar Mirza.

Dengan likuiditas yang membaik, BI pun memproyeksikan defisit transaksi berjalan mencapai US$ 23,9 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dari realisasi 2015 yang mencapai US$ 17,7 miliar. Namun lebih rendah dibanding realisasi 2014 yang mencapai defisit US$ 27,4 miliar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

MULTIMEDIA
Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

NASIONAL
BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

EKONOMI
BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon