BI Perkirakan NPI 2016 Surplus US$ 4 Miliar
Minggu, 21 Februari 2016 | 20:44 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) optimistis, likuiditas di sistem neraca pembayaran Indonesia (NPI) semakin terjaga pada 2016 dengan mencetak surplus, kendati tidak sebesar yang terjadi pada periode 2014 yang mengalami surplus US$ 15,2 miliar.
Keyakinan ini didasarkan pada optimisme neraca modal dan finansial yang positif sehingga bisa menutupi kondisi transaksi berjalan (current account) yang diperkirakan defisitnya meningkat tajam pada 2016. Hal ini mengingat akselerasi pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah yang memungkinkan adanya peningkatan impor.
"Tahun 2016, kami perkirakan bisa surplus lagi US$ 4 miliar. Jadi overall bisa menambah likuiditas di sistem neraca pembayaran," ungkap Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di kantor BI Jakarta, Jumat (19/2).
Dia mengatakan, dengan adanya sejumlah kebijakan yang sudah ditempuh baik dari pemerintah dan bank sentral tentu akan mendukung terjaganya kondisi neraca modal dan finansial. Menurut dia, upaya pemerintah mengurangi beberapa Daftar Negatif Investasi (DNI) juga membuka peluang bagi investasi asing masuk sehingga bisa menambah likuiditas. Selain itu, adanya percepatan pengeluaran anggaran pemerintah untuk berbagai proyek prioritas tentu menambah likuiditas dalam negeri.
Sementara BI sendiri telah melonggarkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) primer dari 7,5% menjadi 6,5% sehingga perbankan mempunyai penambahan likuiditas sekitar Rp 34 triliun yang bisa digunakan untuk menyalurkan kredit ke masyarakat.
Mirza menjelaskan, di tengah kondisi ekonomi global yang masih melambat, misalnya Tiongkok maupun Eropa tentu masih sulit mengharapkan penambahan likuiditas dari kinerja ekspor. Namun, BI tetap berharap, dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang semakain terjaga bisa mengundang lebih banyak portofolio masuk, melalui Surat Berharga Negara (SBN), bahkan obligasi korporasi dari luar negeri.
"Ke depan ini likuiditas mulai membaik, periode kemarin memang banyak capital outflow dan likuiditas ketat," ujar Mirza.
Dengan likuiditas yang membaik, BI pun memproyeksikan defisit transaksi berjalan mencapai US$ 23,9 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dari realisasi 2015 yang mencapai US$ 17,7 miliar. Namun lebih rendah dibanding realisasi 2014 yang mencapai defisit US$ 27,4 miliar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




