2020, Bank Sampoerna Baru Pertimbangkan IPO dan Mitra Strategis
Jumat, 17 Juni 2016 | 17:15 WIBTangerang-PT Bank Sahabat Sampoerna akan mempertimbangkan mitra strategis dan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dalam empat tahun mendatang. Pasalnya, pada tahun 2020, Bank Sampoerna dinilai sudah matang dan menarik untuk dipertimbangkan investor.
Direktur Utama Bank Sampoerna Ali Yong menjelaskan, pemegang saham memang berkomitmen untuk terus meningkatkan permodalan. Pada April 2016 lalu, pemegang saham pun baru menyuntikkan modal sebesar Rp 110 miliar yang membuat bank yang masih berkaitan dengan grup Alfa ini meningkat ke level bank BUKU II atau bank dengan modal inti di atas Rp 1 triliun.
Namun, untuk mencapai level berikutnya yaitu BUKU III dengan modal inti di atas Rp 5 triliun, perseroan, menurut Ali, harus melakukan aksi anorganik. "Mesti diakuisisi atau aksi anorganik lainnya, seperti IPO,"ujar Ali usai acara buka bersama di Kandank Jurank Ciputat Tangerang Selatan, Kamis (16/6).
Akan tetapi, Ali melanjutkan, aksi anorganik tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Menurut Ali, Bank Sampoerna setidaknya harus memiliki aset di atas Rp 20 triliun apabila ingin dipinang pihak lain."Saat ini terlalu kecil, belum seksi, mungkin dipertimbangkan setelah tahun 2020,"tegas dia.
Sedikit informasi, saat ini Bank Sampoerna dimiliki oleh PT. Sampoerna Investama dengan kepemilikan saham sebesar 83 persen. Setelah itu dimiliki oleh PT. Cakrawala Mulia Prima yang masih berada di bawah naungan grup Alfa sekitar 16 persen dan Ekadharmajanto Kasih dengan porsi 1 persen.
Pada tahun ini, Ali mengungkapkan, industri perbankan mengalami tekanan yang cukup berat lantaran permintaan kredit yang menyusut. Pertumbuhan kredit yang pada awalnya ditargetkan bisa mencapai 50 persen, namun direvisi menjadi 30 persen. Kendati pada Mei 2016, penyaluran kredit perseroan masih bisa bertumbuh 50 persen. "Fokus kredit kami adalah untuk segmen kredit kecil, yaitu untuk nasabah dengan plafon di bawah Rp 3 miliar, sampai saat ini pertumbuhannya masih bagus. Namun permintaannya tidak setinggi yang diharapkan," tutur dia.
Selain menurunnya permintaan kredit, tekanan terhadap rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga menjadi halangan untuk tahun ini. Ali menyebutkan, sampai Mei 2016, NPL perseroan tercatat naik ke angka 3,75 persen. Sampai akhir tahun ditargetkan bisa ditekan di bawah 3 persen.
Sementara itu, terhadap program KUR dengan bunga subsidi 9 persen, menurut Ali, tidak banyak mempengaruhi bisnis Bank Sampoerna. Pasalnya, plafon KUR yang diberikan pada program tersebut sebesar Rp 500 juta ke bawah dan hal tersebut tidak bersinggungan dengan bisnis Bank Sampoerna.
Saat ditanya mengenai keikutsertaan Bank Sampoerna pada program KUR, menurut Ali, saat ini pihaknya belum bersedia untuk ikut. "Kami tunda dua tahun lagi karena saat ini terlalu kecil kredit yang kami salurkan,"jelas dia.
Sedangkan untuk suku bunga kredit yang diberikan, Ali mengungkapkan, Bank Sampoerna belum bisa memberikan suku bunga kredit kecil satu digit seperti yang diarahkan regulator. Pasalnya, premi risiko dan biaya kredit untuk segmen kredit kecil relatif lebih tinggi dibandingkan segmen kredit lainnya. "Kalau suku bunga kredit korporasi turun, maka kredit komersial baru bisa turun, setelah itu sektor UKM dan sektor mikro," terang dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




