BI Rate Turun Cepat, Rupiah Melemah
Kamis, 15 Maret 2012 | 11:02 WIB
Bank Indonesia (BI) terlalu cepat menurunkan BI rate dari 6,5 persen (Oktober 2011) menjadi 6 persen (November 2011)
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menilai tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI rate yang cepat pada akhir tahun lalu memicu pelemahan rupiah selama beberapa hari belakangan.
Menurut Tony, Bank Indonesia (BI) terlalu cepat menurunkan BI rate dari 6,5 persen (Oktober 2011) menjadi 6 persen (November 2011), sedangkan terakhir ditahan tetap di level 5,75 persen.
"Kalau inflasi rendah, BI rate turun. Tapi BI lupa, ke depan inflasi akan naik. Padahal, BI rate ikut menyangga modal asing atau menjadi daya tarik investasi asing. Dengan BI rate turun, lem kita kurang kuat jadinya bagi investor," kata Tony, kemarin.
Tony menilai, jika inflasi maksimal tahun ini bisa mencapai 7 persen, BI rate di posisi 5,75 persen saat ini terlalu kecil. Sebab, BI rate sebesar 5,75 persen ditetapkan ketika inflasi di kisaran 3,65 persen.
"Kuartal kedua, inflasi akan naik lagi, apalagi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan naik. Rupiah masih sulit menguat, karena belum ada sentimen yang membuat rupiah menguat. Tapi masih ada harapan kalau Eropa membaik," kata Tony.
Selain BI rate, faktor lain yang turut memperlemah kepercayaan investor sehingga mereka melepas rupiah adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah. Dalam asumsi makro yang disepakati pemerintah dan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pertumbuhan ekonomi disepakati pada kisaran 6,3 persen-6,7 persen.
Angka tersebut, kata Tony, tidak realistis dan mengundang keraguan pelaku pasar. Target yang tidak realistis, akan membuat investor enggan memegang rupiah.
"Kalau Tiongkok saja merevisi 8 persen menjadi 7,5 persen akibat tekanan krisis ekonomi global, masa kita 6,7 persen? Apalagi tahun lalu kita 6,5 persen. Jika ingin membuat kisaran, jangan menabrak 6,5 persen," tukas Tony.
Selain dipengaruhi sentimen dalam negeri, sentimen luar negeri turut mempengaruhi rupiah. Tony optimistis, harapan masih ada bagi penguatan rupiah jika kondisi Eropa membaik. Namun, apabila di dalam negeri terjadi sentimen negatif akibat kenaikan BBM muncul, rupiah bisa kembali melemah.
"BI harus intervensi banyak. Sampai akhir tahun perkiraan saya rupiah akan bergerak di Rp 9.000-9.200 per Dolar AS," pungkas Tony.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menilai tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI rate yang cepat pada akhir tahun lalu memicu pelemahan rupiah selama beberapa hari belakangan.
Menurut Tony, Bank Indonesia (BI) terlalu cepat menurunkan BI rate dari 6,5 persen (Oktober 2011) menjadi 6 persen (November 2011), sedangkan terakhir ditahan tetap di level 5,75 persen.
"Kalau inflasi rendah, BI rate turun. Tapi BI lupa, ke depan inflasi akan naik. Padahal, BI rate ikut menyangga modal asing atau menjadi daya tarik investasi asing. Dengan BI rate turun, lem kita kurang kuat jadinya bagi investor," kata Tony, kemarin.
Tony menilai, jika inflasi maksimal tahun ini bisa mencapai 7 persen, BI rate di posisi 5,75 persen saat ini terlalu kecil. Sebab, BI rate sebesar 5,75 persen ditetapkan ketika inflasi di kisaran 3,65 persen.
"Kuartal kedua, inflasi akan naik lagi, apalagi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan naik. Rupiah masih sulit menguat, karena belum ada sentimen yang membuat rupiah menguat. Tapi masih ada harapan kalau Eropa membaik," kata Tony.
Selain BI rate, faktor lain yang turut memperlemah kepercayaan investor sehingga mereka melepas rupiah adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah. Dalam asumsi makro yang disepakati pemerintah dan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pertumbuhan ekonomi disepakati pada kisaran 6,3 persen-6,7 persen.
Angka tersebut, kata Tony, tidak realistis dan mengundang keraguan pelaku pasar. Target yang tidak realistis, akan membuat investor enggan memegang rupiah.
"Kalau Tiongkok saja merevisi 8 persen menjadi 7,5 persen akibat tekanan krisis ekonomi global, masa kita 6,7 persen? Apalagi tahun lalu kita 6,5 persen. Jika ingin membuat kisaran, jangan menabrak 6,5 persen," tukas Tony.
Selain dipengaruhi sentimen dalam negeri, sentimen luar negeri turut mempengaruhi rupiah. Tony optimistis, harapan masih ada bagi penguatan rupiah jika kondisi Eropa membaik. Namun, apabila di dalam negeri terjadi sentimen negatif akibat kenaikan BBM muncul, rupiah bisa kembali melemah.
"BI harus intervensi banyak. Sampai akhir tahun perkiraan saya rupiah akan bergerak di Rp 9.000-9.200 per Dolar AS," pungkas Tony.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




