ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kesepakatan ART Untungkan Indonesia Khususnya Komoditas Gandum

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:30 WIB
EM
AD
Penulis: Erfan Maruf | Editor: AD
Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar.
Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar. (Beritasatu Photo/Joanito De Saojoao)

Tigaraksa, Beritasatu.com - Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar menilai kesepakatan dalam agreement on reciprocal trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menguntungkan Tanah Air khususnya komoditas yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Menurut Rizqy, dari sisi tarif terdapat beberapa komoditas asal AS yang mendapatkan penurunan tarif sangat rendah. Namun, komoditas tersebut umumnya merupakan barang yang memang tidak memiliki keunggulan komparatif untuk diproduksi di dalam negeri.

“Untuk beberapa komoditas seperti gandum, kita memang tidak punya comparative advantage. Jadi ketika tarifnya rendah, ini justru bisa menguntungkan Indonesia dan masyarakat secara umum,” ujarnya seusai diskusi The Forum di kantor B-Universe, PIK2, Tangerang, Banten, Senin (23/2/2026).

ADVERTISEMENT

Ia juga menyoroti adanya mutual recognition agreement (MRA) antara sertifikasi halal AS dan Indonesia. Jika institusi pemberi sertifikasi di AS dinilai kredibel, maka pengakuan timbal balik tersebut berpotensi menekan biaya transaksi (transaction cost) bagi pelaku usaha.

“Tentu kita ingin sertifikasi itu tetap sesuai dengan standar dan ke marwah sertifikasi di Indonesia, tetapi kalau lembaganya credible, ini bisa mengurangi biaya,” katanya.

Namun demikian, Rizqy mengingatkan adanya klausul dalam ART yang mengatur standarisasi mengikuti standar AS, khususnya untuk produk pertanian dan makanan. Hal ini, menurutnya, perlu diwaspadai karena berkaitan dengan aspek kesehatan publik (public health).

“Apakah kita ingin mengikuti standarisasi yang ditetapkan Amerika, terutama untuk produk pangan dan agriculture? Ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati,” ujarnya.

Ia menegaskan, isu utama dalam ART bukan semata-mata tarif, melainkan berbagai klausul nontarif yang berpotensi memiliki konsekuensi jangka panjang bagi Indonesia.

Terkait dampak ekonomi secara keseluruhan, Rizqy mengaku belum dapat mengestimasi secara pasti apakah ART akan merugikan atau tidak. Namun, ia memperkirakan akan terjadi trade diversion.

Artinya, karena adanya kewajiban atau insentif untuk membeli dari AS, Indonesia bisa saja mengalihkan impor dari negara lain ke AS, meskipun belum tentu lebih efisien atau lebih murah.

“Kalau kita tidak lagi membeli dari yang paling murah, tentu ada potensi inefisiensi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti klausul penghapusan hambatan perdagangan yang dalam ART berlaku khusus untuk AS. Padahal, menurutnya, deregulasi hambatan perdagangan semestinya dilakukan secara universal untuk seluruh mitra dagang.

“Kalau reformasi itu dilakukan secara menyeluruh untuk semua partner dagang, justru akan lebih baik untuk perekonomian kita,” tegasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tok! Tarif Dagang RI ke AS Turun dari 19 Persen Jadi 15 Persen

Tok! Tarif Dagang RI ke AS Turun dari 19 Persen Jadi 15 Persen

EKONOMI
Menperin Yakin Perjanjian Dagang RI-AS Dorong Industrialisasi

Menperin Yakin Perjanjian Dagang RI-AS Dorong Industrialisasi

EKONOMI
Putusan MA AS Bikin Jepang dan Eropa Ingin Nego Ulang

Putusan MA AS Bikin Jepang dan Eropa Ingin Nego Ulang

EKONOMI
Produk Indonesia Ini Ternyata Kena Tarif 104 Persen dari AS

Produk Indonesia Ini Ternyata Kena Tarif 104 Persen dari AS

EKONOMI
AS Dibebaskan Ambil Mineral Kritis, BKPM: Wajib Hilirisasi

AS Dibebaskan Ambil Mineral Kritis, BKPM: Wajib Hilirisasi

EKONOMI
Perjanjian Dagang RI-AS Berpotensi Dorong Ekspor hingga 15 Persen

Perjanjian Dagang RI-AS Berpotensi Dorong Ekspor hingga 15 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon