Sektor Infrastruktur Topang Kredit Korporasi Bank BUMN
Selasa, 4 Oktober 2016 | 22:35 WIB
Jakarta – Di tengah perlambatan ekonomi global dan melesunya kegiatan ekspor impor, sektor infrastruktur dinilai memberikan daya dorong terhadap penyaluran kredit korporasi bank-bank BUMN. Penyaluran kredit infrastruktur akan semakin massif dan mendorong pertumbuhan kredit korporasi pada kuartal IV-2016.
Direktur Corporate Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilar mengatakan, saat ini penyaluran kredit korporasi mulai menunjukkan tren peningkatan dengan pertumbuhan kredit di atas 10% secara year on year (yoy) hingga kuartal ketiga tahun ini. Penyaluran kredit tersebut terutama didorong oleh penyaluran kredit pada sektor infrastruktur.
"Permintaan kredit korporasi mulai meningkat. Kami sudah siap membiayai beberapa proyek, kebanyakan di kuartal keempat nanti itu untuk pembangkit listrik," kata Royke di Jakarta, Senin (3/10).
Royke menjelaskan, penyaluran kredit untuk korporasi BUMN saat ini banyak terkonsentrasi pada sektor-sektor infrastruktur, sedangkan korporasi swasta saat ini banyak melakukan proses konsoldiasi. "Saya banyak arrange, yang swasta yang punya ekses likuiditas mulai ekspansi, beli perusahaan-perusahaan yang ini (kondisi sulit)," ujar dia.
Menurut Royke, penyaluran kredit korporasi perseroan saat ini sebagian besar berbentuk kredit modal kerja. Namun, Royke mengaku pihaknya akan menyeimbangkan penyaluran kredit pada kredit modal kerja dan kredit investasi. "Kami akan seimbangkan kredit modal kerja dan investasi. Hingga akhir tahun kami berusaha mendorong kredit korporasi tumbuh dikisaran 15% (yoy)," terang Royke.
Royke menuturkan, untuk proyek pembangkit listrik saja, pihaknya menyediakan alokasi pinjaman Rp 15-20 triliun yang diperkirakan baru dicairkan seluruhnya hingga dua tahun ke depan, tergantung pada progress pembangunan proyek.
Selain pembangkit listrik, pihaknya tengah menangani kredit sindikasi untuk proyek Jalan Tol BSD (Bumi Serpong Damai) dan pembangunan bandara-bandara milik Angkasa Pura I senilai Rp 4 triliun. "Kami juga menyalurkan kredit untuk proyek Palapa Ring Barat sekitar Rp 1 triliun. Kalau itu Mandiri salurkan sendiri," terang dia.
Senior Vice President Corporate Banking II Bank Mandiri Dikdik Yustandi menambahkan, Bank Mandiri tengah menangani pembiayaan sindikasi untuk proyek paket pembangunan dan peremajaan Angkasa Pura I yang terdiri atas Kulon Progo, Banjarmasin, Semarang, dan Surabaya. Selain bandara, Bank Mandiri akan mendukung pembiayaan pembangunan pelabuhan milik PT Pelindo I di Kuala Tanjung dan PT Pelindo IV di Makassar. "Kami juga sedang proses untuk financial closing proyek jalan tol Manado-Bitung dan pembiayaan untuk jalur kereta," terang dia.
Sangat Prospektif
Sementara itu, Vice President Unit Bisnis Sindikasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Dedi Priambodo menuturkan kredit di sektor infrastruktur saat ini sangat prospektif. Adapun dari kredit-kredit sindikasi yang di tangani BNI, mayoritas atau 60-70% merupakan kredit di sektor infrastruktur. Tahun ini, BNI telah menangani 13 transaksi pembiayaan sindikasi dengan total nilai pembiayaan sekitar US$ 1,6 miliar.
"Dari 37 pembiayaan sindikasi, kami pegang 13 deal dengan pangsa pasar 10,1% sehingga saat ini kami berada di posisi pertama sebagai book runner berdasarkan peringkat Bloomberg. Mayoritas kredit sindikasi yang kami tangani memang proyek-proyek infrastruktur," ujar Dedi.
Menurut Dedi, pihaknya baru saja menyelesaikan penandatanganan kredit sindikasi untuk proyek LRT Palembang sebesar Rp 4,3 triliun. BNI juga telah mendapat mandat guna menangani kredit sindikasi untuk proyek Palapa Ring Timur dengan nilai pinjaman sebesar Rp 4,3 triliun, dan proyek Jalan Tol Pejagan-Pemalang dan Pejagan Batang dengan nilai pinjaman masing-masing sekitar Rp 4,7 triliun dan Rp 3,4 triliun.
"Kami lihat respons dari bank-bank lain untuk terlibat dalam penyaluran infrastruktur cukup bagus. Untuk proyek Pejagan-Pemalang dan Pejagan Batang kami harapkan bisa tanda tangan pada Oktober ini, begitu juga untuk proyek Palapa Ring Timur kami harapkan bisa selesai tahun ini," terang dia.
Hingga Agustus 2016, total penyaluran kredit BNI tercatat sebesar Rp 342,51 triliun, tumbuh 23% (yoy) dibanding periode sama tahun lalu Rp 278,41 triliun.
Sementara itu, Vice President Kelembagaan dan BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Bustomi menuturkan, hingga akhir Agustus lalu, penyaluran kredit BRI untuk BUMN pada sektor infrastruktur dan jasa-jasa mencapai Rp 49 trilun. Dari jumlah tersebut kredit yang disalurkan ke BUMN untuk proyek infrastruktur mencapai Rp 36 triliun.
"Sampai akhir tahun untuk BUMN di sektor infrastruktur dan jasa-jasa kami perkirakan mencapai Rp 51,5 triliun, karena ada beberapa proyek yang multiyears. Ada beberapa proyek antara lain proyek transmisi listrik, kami juga sedang evaluasi kredit-kredit untuk BUMN karya," terang dia.
Berbeda dengan dua bank BUMN yang disebutkan sebelumnya, BRI sudah membatasi penyaluran kredit di segmen korporasi, termasuk pada sektor infrastruktur. Pasalnya, menurut dia, pihaknya harus memastikan porsi penyaluran kredit perseroan pada segmen korporasi tetap berada di bawah 25%. "Karena kami kan fokus penyaluran kreditnya di UMKM, jadi kami harus mempertahankan porsi penyaluran kredit korporasi setinggi-tingginya 25%," terang dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




