Terapkan Bioteknologi, Pemkab Lamongan Tingkatkan Produksi Jagung
Selasa, 24 Januari 2017 | 22:30 WIB
Lamongan - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan terus mendukung peningkatan produktivitas pertanian jagung dengan pengaplikasian varietas unggul serta teknologi terkini.
Bupati Lamongan, Fadeli, mengatakan sebagai salah satu sentra pertanian jagung di Jawa Timur, petani di Lamongan siap mengaplikasikan teknologi terkini untuk mendukung swasembada jagung di Indonesia.
"Kami ingin kabupaten Lamongan ini bisa menjadi pilot project ketika nanti penggunaan varietas berbasis bioteknologi sudah dilepas ke pasaran," katanya di sela Panen Raya Demfarm di Kawasan Jagung Modern Desa Banyubang Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa (24/1).
Dalam panen raya yang dilakukan di lahan percobaan seluas 100 hektar ini, diperoleh produktivitas rata-rata mencapai 10,6 ton/hektar dengan penggunaan benih jagung hibrida. Produktivitas ini jauh lebih tinggi daripada rata-rata produksi benih konvensional yang mencapai 5-6 ton/hektar.
"Di lahan percontohan ini, diujicoba berbagai varietas benih jagung hibrida serta diterapkan teknologi pertanian terkini diantaranya sistem tanam jajar legowo serta aplikasi pupuk organik berimbang," kata Fadeli.
Beberapa varietas, kata Fadeli, bahkan mencapai hasil yang cukup tinggi dengan produktivitas mencapai 12,7 ton/hektar. Tahun ini, lanjut dia, Pemkab Lamongan akan memperluas areal percontohan dengan benih pilihan yang akan diaplikasikan di lahan yang lebih luas yakni 10.000 hektar.
"Kami menargetkan produktivitas 9-10 ton per hektar dan kami ingin Kabupaten Lamongan menjadi percontohan untuk budidaya jagung di Indonesia. Jika benih yang digunakan adalah varietas bioteknologi kami yakin hasilnya akan jauh lebih besar dan lamongan bisa menjadi lumbung jagung nasional," kata Bupati Fadeli.
Saat ini, lahan pertanian jagung di wilayah Kabupaten Lamongan mencapai 58.000 hektar yang tersebar di 12 kecamatan.
Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan), Nandang Sunandar, menambahkan, pola percontohan budidaya jagung yang dilakukan di Lamongan ini cukup positif dan bisa menjadi percontohan di berbagai wilayah budidaya lain di Indonesia.
"Kami melihat komitmen yang cukup baik dari Pemkab Lamongan dimana fokus pada pengembangan budidaya jagung dilakukan secara menyeluruh. Dukungan yang terus diberikan untuk mendorong petani di wilayah ini menggunakan teknologi pertanian terkini juga bisa menjadi contoh positif pengembangan jagung sebagai salah satu cara mencapai swasembada nasional," ujarnya.
Ia menambahkan, tahun ini Kemtan kemungkinan besar tidak akan mengeluarkan rekomendasi impor jagung karena kebutuhan tahun ini diperkirakan bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Sementara, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia, Sholahudin, menambahkan penggunaan teknologi pada budidaya jagung di Lamongan ini diharapkan bisa menjadi contoh di lokasi lain di Indonesia. Pria yang juga petani jagung di Lamongan ini menambahkan, kini banyak petani di wilayahnya yang beralih ke komoditas jagung setelah mengetahui hasilnya yang cukup positif.
"Jika dulu pada 3 musim tanam dalam setahun kebanyak petani disini hanya menanam padi, maka kini satu musim tanam diantaranya ditanami jagung. Karena petani juga semakin sadar pengolahan tanah yang baik," katanya.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, menambahkan kini yang dibutuhkan petani jagung dari pemerintah adalah kepastian pengendalian harga khususnya ketika terjadi panen raya pada Bulan April mendatang.
"Pemerintah melalui Bulog harus siap menyerap jagung dari petani jika nantinya harga jual di apsaran jatuh karena oversupply. Jika tidak, petani jagung akan kecewa dan kapok menanam jagung," tuturnya.
Pemerintah sendiri sudah mematok harga pokok pembelian (HPP) jagung sebesar Rp 3.150 per kilogram. Saat ini di pasaran harga jagung masih bertahan di angka Rp 3.650-Rp 4.000 per kilogram.
Sementara itu, Ganesh Pamugar Satyagraha, Presiden Direktur Monsanto Indonesia, produsen benih jagung hibrida, menambahkan pihaknya saat ini terus mengembangkan varietas-varietas benih unggulan untuk memenuhi kebutuhan petani di Indonesia.
"Saat ini kami mempunyai berbagai varietas benih jagung hibrida dengan keunggulan masing-masing. Salah satunya benih Dekalb DK959 yang cukup sukses ditanam di Lamongan ini dengan produktivitas mencapai 12,7 ton per hekatar," paparnya.
Kedepan, Monsanto juga berharap pemerintah segera mengeluarkan izin untuk pelepasan varietas bioteknologi untuk mendorong produksi jagung nasional. Tahun 2016 lalu, Monsanto Indonesia memproduksi sekitar 4.600 ton benih jagung hibrida. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat signifikan tahun ini seiring meningkatnya penggunaan benih jagung hibrida di masyarakat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




