IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan RI di 2018
Selasa, 25 Juli 2017 | 15:21 WIB
Jakarta- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan Indonesia turun 0,1 persen menjadi 5,2 persen di kuartal pertama 2018 atau prediksi sebelumnya 5,3 persen yang dirilis pada April 2017.
Ketua Kajian Wilayah Departemen Asia Pasifik IMF, Ranil Salgado mengatakan koreksi prediksi pertumbuhan Indonesia juga berlaku di kelompok ASEAN 5 lain, yakni Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta kelompok ekonomi pengekspor komoditas. Meski dikoreksi, IMF menilai pertumbuhan Indonesia hingga kuartal II-2017 masih positif di angka 5 persen dibandingkan 2016 lalu, yakni 4,9 persen. "Untuk Indonesia, makroekonomi masih positif, dan dengan membaiknya harga beberapa komoditas, PDB (produk domestik bruto) riil tumbuh 5 persen yang utamanya dipengaruhi peningkatan netto ekspor," kata Salgado di Jakarta, Selasa (25/7).
IMF juga menggarisbawahi beberapa risiko yang harus diantisipasi, antara lain rendahnya investasi asing, sehingga diperlukan insentif yang menarik serta inflasi yang memengaruhi daya beli masyarakat bawah. "Tingkat inflasi masih dalam batas target pemerintah yakni 3-5 persen, tapi pemerintah perlu menyiapkan jaring pengaman sosial yang lebih baik terkait kenaikan harga listrik," kata Salgado.
Selain itu, IMF mengingatkan perlunya formulasi yang berorientasi jangka menengah-panjang untuk meningkatkan pendapatan pajak negara. "Tidak hanya di Indonesia, kelompok ASEAN 5 lainnya, seperti Thailand dan Filipina, pendapatan pajak cenderung masih rendah," kata dia.
IMF telah merilis proyeksi ekonomi global dalam World Economic Outlook (WEO) 2017 sebagai koreksi prediksi WEO April 2017, di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin, yang mengumumkan pemulihan pascakrisis ekonomi global 2008 masih berjalan di jalur yang tepat.
Proyeksi tersebut menunjukkan penguatan pemulihan global dengan pertumbuhan 3,5 persen pada 2017 dan 3,6 persen pada 2018 yang mencerminkan implikasi makroekonomi dari perubahan asumsi kebijakan dua ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok.
IMF memprediksi AS akan tumbuh 2,1 persen pada 2017 dan 2018 atau turun berturut-turut 0,2 dan 0,4 persen dari proyeksi April 2017, yang dipengaruhi asumsi kebijakan fiskal yang tidak terlalu ekspansif.
Sementara Tiongkok diproyeksikan tumbuh 6,7 persen pada 2017 dan 6,4 persen pada 2018, atau naik berturut-turut 0,1 persen dan 0,2 persen, yang merefleksikan kondisi makroekonomi yang kuat pada kuartal I-2017 dan harapan berlanjutnya dukungan fiskal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




