Laba Bersih Pelita Air Tumbuh 552 Persen
Kamis, 10 Mei 2018 | 17:42 WIB
Jakarta - PT Pelita Air Service mencatatkan laba bersih senilai US$ 2,7 juta pada 2017. Pencapaian tersebut mengalami pertumbuhan 552 persen dibandingkan realisasi laba bersih pada tahun sebelumnya senilai US$ 480.000.
Sekretaris Perusahaan Pelita Air Service, Fety menjelaskan, rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 9 Mei 2018 menyetujui laporan pendapatan 2017 senilai US$ 56,54 juta atau naik 6 persen dibandingkan pendapatan audit 2016 sejumlah US$ 53,34 juta.
"Pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada tahun 2017 merupakan hasil dari proses transformasi yang dijalankan oleh PT Pelita Air Service sejak tahun 2016 setelah sebelumnya di tahun 2015 mengalami kerugian sebesar US$ 21,25 juta," terang Fety dalam siaran persnya, Kamis (10/5).
Adapun langkah transformasi yang dilakukan oleh Pelita Air, sambung Fety, di antaranya pengembangan pasar dan sinergi BUMN melalui pelaksanaan distribusi BBM satu harga di Tarakan dan Papua yang dijalankan oleh Pelita Air sejak 18 Oktober 2016 menggunakan pesawat Air Tractor 802 serta sinergi dengan anak perusahaan Grup Pertamina lainnya.
Pelita Air juga menerapkan restrukturisasi organisasi melalui program optimasi sumber daya manusia (SDM) yang menghasilkan peningkatan produktivitas sebesar 25 persen dari US$ 174,320 per pekerja pada 2016 menjadi US$ 218,305 per pekerja pada 2017.
Lebih lanjut, ungkap Fety, pihaknya melakukan optimasi aset perusahaan melalui program revitalisasi Bandara Pondok Cabe yang mendorong diterbitkannya sertifikat Bandara Pondok Cabe sebagai bandara khusus. Pelita Air Service juga mereaktivasi Bandara Tanjung Warukin di Tabalong, Kalimantan Selatan yang ditandai dengan peresmiannya pada 4 Desember 2017 dan pelaksanaan penerbangan perdana Jakarta-Tanjung Warukin pada 7 Mei 2018.
Fety melanjutkan, tahun 2017 merupakan tahun yang penuh tantangan karena perusahaan dihadapkan pada situasi di mana pelanggan utama perusahaan, yakni perusahaan minyak dan gas (migas) di Indonesia harus menjalankan program efisiensi seiring turunnya harga minyak dunia.
"Namun demikian, perusahaan tetap dapat memberikan hasil yang maksimal melalui penghematan biaya operasional tanpa mengurangi kualitas layanan perusahaan," jelas Fety.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




