Atasi Pelemahan Rupiah, BI Harus Terus di Depan Kurva
Senin, 24 September 2018 | 16:11 WIBYogyakarta – Bank Indonesia harus terus di depan kurva (step ahead of the curve) untuk stabilisasi rupiah yang kini mempunyai kecenderungan melemah akibat faktor global. Pengamat menilai, BI sekarang di belakang kurva (behind the curve) karena Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) telah menaikkan suku bunga sebesar 175 basis poin (bps) dalam tahun ini, sementara Bank Indonesia baru 125 basis poin.
Hal itu diungkapkan oleh Komisaris PT Bank Centra Asia (BCA) Tbk Cyrillus Harinowo dan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono dalam acara Kafe BCA on The Road di Yogyakarta, akhir pekan lalu.
"BI harus terus di depan kurva karena dalam tren kenaikan suku bunga global, BI ketinggalan 50 bps dibanding Fed Fund Rate (FFR)," kata C Harinowo. Ia menegaskan, BI mempunyai kesempatan 12 kali dalam setahun untuk menaikkan suku bunga acuan (BI 7 days reserve repo rate), sedangkan Bank Sentral AS hanya memiliki 4 kali kesempatan dalam setahun untuk menaikkan suku bunga.
Hal senda juga diungkapkan oleh Tony Prasetyantono. Tanpa kenaikan suku bunga acuan BI, bank sentral harus mengorbankan cadangan devisanya untuk stabilisasi rupiah. "BI masih punya kesempatan untuk menaikkan bunga acuan," katanya. Ia memprediksi FFR masih akan kembali naik setelah diumumkan data inflasi AS yang mencapai 2,9% akibat naiknya pertumbuhan ekonomi. Jika FFR tidak dinaikkan maka suku bunga riil di AS (FFR dikurangi inflasi) akan negatif yang menyebabkan masyarakat tidak mau menyimpan uangnya di bank.
Meski Rupiah melemah mendekati Rp 15.000 per dolar AS, Tony meyakini bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dengan krisis tahun 1998. "Saat ini kondisi ekonomi RI jauh lebih sehat," ujarnya. Perbedaan mencolok kondisi sekarang dibanding 1998 antara lain, rupiah saat ini melemah dari Rp 13.400 menjadi Rp 15.000 per dolar AS, sedang pada Oktober 1997 rupiah dari Rp 2.300, kemudian Januari melonjak Rp 15.000 per dolar AS, atau naik 6 kali lipat.
Selain itu, pada 1998 pertumbuhan ekonomi RI negatif, sedangkan saat ini pertumbuhannya melemah tapi masih di kisaran 5,17%. "Indikator lainnya adalah inflasi, saat ini angkanya sekitar 3,5 % sedangkan saat krisi tahun 1998 mencapai 78%. Dan yang utama, fundamental perbankan saat ini sangat sehat, jauh berbeda dengan 1998. "Jadi sama sekali beda. Kalau melihat angka Rp 15.000 ya memang sama dengan 1998. Tapi maknanya beda, underlying beda," jelasnya. (ls)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




