BPS: Cukup Baik, Ekonomi Bisa Tumbuh 5,17%
Rabu, 6 Februari 2019 | 12:42 WIB
Jakarta, Beritasatu.com-
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menilai, pertumbuhan ekonomi 2018 yang mencapai 5,17% sudah cukup baik ditengah-tengah ekonomi global yang tengah melemah. BPS mencatat, produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 tumbuh sebesar 5,17% atau merupakan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2014 silam.
Pertumbuhan ekonomi 5,17% menjadi capaian terbaik dan menjadi rekor tertinggi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, meski meleset dari target APBN 2018 yang mencapai 5,4% dan juga target semasa kampanye pada tahun 2014 yang sebesar 7%.
"RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) harus dibuat 5 tahun kedepan, misalnya 2019 proyeksikan 2024, dan kalau bicara ekonomi kan banyak hal yang tidak terduga, misalnya The Fed naikkan suku bunganya terlalu sering, dan tidak kepikiran ada perang dagang yang muncul dan sebagainya. Jadi, kalau saya 7% pertumbuhan ekonominya akan berat, tapi kalau perhatikan ekonomi global yang melemah dan harga komoditas yang fluktuatif maka 5,17% saya bisa bilang kita bukan the best, tapi ok lah," ungkapnya di Jakarta, Rabu (6/2).
Adapun pada kuartal I 2018 BPS mencatat adanya pertumbuhan ekonomi 5,06%, kuartal II 5,27%, kuartal III 5,17%, lalu kuartal IV 5,18%.
Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 menurut lapangan usaha adalah lapangan usaha industri pengolahan 0,91%,disusul perdagangan 0,66%, konstruksi 0,61%, pertanian kehutanan dan perikanan 0,49%, dan 2,5% gabungan dari subsektor lainnya.
Sementara PDB menurut pengeluaran adalah konsumsi LNPRT 10,79%, impor 7,10%, PMTB 6,01%, konsumsi rumah tangga 5,08%, konsumsi pemerintah 4,56%, dan ekspor 4,33%. "Mendekati Pilkada, Pilpres, Pileg banyak pertumbuhan dari sisi politik dan bahan kampanye, safari politik menyebabkan LNPRT tumbuh dan dipersepsikan kuartal I akan masih bergerak karena pemilihan baru dilakukan pada 17 April yang masuk ke kuartal II," jelas Suhariyanto.
Terkait catatan peristiwa kuartal IV 2018 , Suhariyanto menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Harga komoditas non migas di pasar internasional mengalami penurunan, di mana harga ICP kuartal IV 2018 US$ 65,12 per barel, dari kuartal III yang mencapai US$ 71,64 per barel.
Sementara, beberapa mitra dagang Indonesia masih tumbuh positif, meski cenderung melambat. Tiongkok yang ekspornya paling besar ekonominya melambat menjadi 6,4% pada Q4 2018 dibanding Q4 2017, AS stagnan di 3,0% meski lebih tiggi dari 2,5% pada Q4 2017, Jepang diperkirakan menguat 0,6% namun masih rendah dibandingkan 2,5% pada Q4 2017, dan Singapura melambat menjadi 2,2% dibandingkan 3,6% pada Q4 2017. "Perlambatan ini akan terbawa ke kondisi perekonomian 2019. Banyak lembaga internasional juga menyatakan akan banyak tantangannya," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




