UU Cipta Kerja Harus Dibarengi Peningkatan Keahlian Angkatan Kerja
INDEX

BISNIS-27 538.843 (9.76)   |   COMPOSITE 6321.86 (107.9)   |   DBX 1200.53 (9.93)   |   I-GRADE 184.241 (6.4)   |   IDX30 532.439 (13.05)   |   IDX80 142.581 (3.74)   |   IDXBUMN20 424.518 (18.32)   |   IDXESGL 148.639 (1.84)   |   IDXG30 144.207 (3.69)   |   IDXHIDIV20 468.297 (10.48)   |   IDXQ30 151.63 (3.41)   |   IDXSMC-COM 289.047 (5.63)   |   IDXSMC-LIQ 360.181 (16.02)   |   IDXV30 145.782 (3.85)   |   INFOBANK15 1071.04 (26.84)   |   Investor33 457.812 (8.8)   |   ISSI 186.628 (3)   |   JII 657.942 (12.88)   |   JII70 230.141 (4.83)   |   KOMPAS100 1272.98 (29.01)   |   LQ45 989.051 (25.8)   |   MBX 1747.76 (32.18)   |   MNC36 338.242 (6.45)   |   PEFINDO25 338.749 (2.41)   |   SMInfra18 324.227 (7.63)   |   SRI-KEHATI 391.331 (7.38)   |  

UU Cipta Kerja Harus Dibarengi Peningkatan Keahlian Angkatan Kerja

Sabtu, 28 November 2020 | 20:57 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi mengungkapkan, Undang-undang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) yang merupakan salah satu strategi menciptakan peluang kerja di sektor industri harus dibarengi dengan peningkatan keterampilan dan keahlian angkatan kerja.

Pasalnya, selain masalah perizinan dan berbagai hambatan regulasi, rendahnya keterampilan angkatan kerja Indonesia juga kerap menjadi keluhan para investor.

"UU Cipta Kerja sebagai upaya memecahkan persoalan investor terkait dengan keluhan perizinan, hambatan regulasi, pengadaan tanah dan lain-lain. Satu lagi keluhan investor yang perlu menjadi perhatian dan perlu dicairkan solusinya adala rendahnya keterampilan angkatan kerja Indonesia. Perlu ada strategi untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian angkatan kerja dan pekerja muda atau milenial melalui pelatihan vokasi bersertifikasi keahlian atau kompetensi,” kata Tadjuddin dalam acara webinar Strategi Ketenagakerjaan Menghadapi Bonus Demografi dan Perkembangan Industri, Sabtu (28/11/2020).

Tadjuddin mengungkapkan, dari sisi struktur penduduk usia 15-65 tahun, Indonesia sebetulnya lebih unggul dibandingkan negara tetangga di Asean. Begitu juga dengan jumlah penduduk. "Jumlah angkatan kerja Indonesia yang produktif cukup besar. Sedangkan Malaysia dan Thailand mulai mengalami penurunan. Tiga sampai empat tahun ke depan, mereka akan kekurangan pasokan tenaga kerja,” papar Tadjudin.

Keunggulan tersebut harusnya bisa dimanfaatkan untuk memajukan ekonomi Indonesia. Namun, Tadjuddin melihat belum ada strategi yang tepat untuk dapat mengoptimalkan potensi besarnya jumlah angkatan kerja tersebut.

"Di suatu negara, bonus demografi itu hanya terjadi satu kali, tidak akan terulang. Jadi kalau kita melewatkan situasi yang sangat menguntungkan ini, kita akan kehilangan peluang, dan negara kita tidak akan pernah mengalami seperti yang dialami negara-negara maju,” kata Tadjuddin.

Karenanya, menurut Tadjudin, perlu ada transformasi struktur sektoral angkatan kerja, serta peningkatan keterampilan dan keahlian angkatan kerja dan pekerja muda melalui pelatihan dan pemberian sertifikasi.

Menurut Tadjuddin, training atau pelatihan angkatan kerja muda sangat diperlukan agar dapat memenuhi kebutuhan pasar kerja, sedangkan retraining pekerja diperlukan agar dapat menyesuaikan keterampilan dan keahlian dengan perubahan teknologi. Kemudian reskilling atau upskilling melatih pekerja agar dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian untuk memenuhi tuntutan perkembangan teknologi.

Tadjudin memberi contoh tenaga kerja Indonesia yang bekerja di bidang teknologi informasi (TI). Ada beberapa sektor yang mengalami kekosongan tenaga kerja Indonesia atau jumlahnya sangat minim, misalnya saja analisis sistem, pengembang perangkat lunak, pengembang web dan multimedia, pemrogram aplikasi, dan sebagainya.

"Justru kebanyakan tenaga kerja Indonesia hanya melakukan tugas entry data. Kalau ini tidak bisa kita isi segera, kita akan ketinggalan. Sebab industri-industri ini semuanya akan menggunakan IT sebagai dasar pekerjaan mereka,” kata Tadjuddin.

Struktur Tenaga Kerja
Ketua Komite Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial untuk Upah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Aloysius Budi Santoso menambahkan, berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) 2019, daya saing Indonesia berada di peringkat 50 dari 141 negara di dunia. Posisi Indonesia ini masih di bawah Singapura, Thailand dan Malaysia.

"Kalau kita soroti di dalamnya, peringkat fleksibilitas pasar kerja kita juga masih cukup challenging. Misalnya biaya PHK, hak-hak pekerja, fleksibilitas upah, serta hubungan pekerja dan pengusaha. Ini menunjukkan bahwa sistem ketenagakerjaan kita relating masih cukup rigid," kata Budi.

Terkait level pendidikan tenaga kerja Indonesia, dari sekitar 129 juta pekerja produktif, mayoritasnya adalah lulusan SD, SMP dan SMA. "Pendidikan SD dan SMP-nya 47 persen, SMK dan SMA 28 persen, dan seterusnya. Ini menunjukkan betapa menantangnya struktur tenaga kerja kita berbasiskan pendidikan orang-orang yang ada dalam pasar tenaga kerja,” kata Budi.

Kemudian dari jumlah pekerja tersebut, hanya 3 persen pekerja Indonesia yang bekerja di perusahaan besar. Bila digabungkan dengan pekerja di perusahaan sektor menengah hanya 6 persen saja. Sementara, sisanya bekerja di sektor usaha mikro dan kecil.

"Pasar tenaga kerja sebetulnya adalah muara dari infrastruktur pendidikan. Jadi sebetulnya kalau ingin membenahi pasar ketenagakerjaan, harus dari muaranya yaitu sistem pendidikan,” tegas Budi. 




Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

IUIGA Resmikan Gerai Kedua di ASHTA District 8

Melihat respons yang sangat positif akan gerai pertama dan menjawab permintaan para konsumen, IUIGA meresmikan gerai kedua di ASHTA District 8.

EKONOMI | 28 November 2020

Tutup Tahun 2020, Summareccon Serpong Pasarkan Klaster Baru

Sebanyak 76 unit rumah akan mulai dijual perdana pada tanggal 5 Desember 2020 mendatang dengan sistem penjualan online untuk menjaga kenyamanan calon konsumen.

EKONOMI | 28 November 2020

Behaestex Kembangkan Platform Digital Sarung Indonesia

Platform digital yang dikembangkan Behaestex tidak hanya menyediakan sistem dropship, juga tersedia sistem reseller.

EKONOMI | 28 November 2020

Tampilkan Wajah Industri Nasional di Mata Global, Hannover Messe 2021 Siap Digelar

Kemperin menyatakan pelaksanaan Hannover Messe akan kembali diselenggarakan pada April 2021.

EKONOMI | 28 November 2020

Anggota DPR: Harus Ubah Mindset Masyarakat dalam Menilai Koperasi

Masyarakat harus ubah cara pandang menilai koperasi.

EKONOMI | 28 November 2020

Maksimalkan Transaksi Berlimpah di Festival Belanja

Pada 2020 terdapat lebih dari 250 platform online yang mendaftar dalam festival belanja online Harbolnas yang dikawal oleh Asosiasi E-Commerce Indonesia.

EKONOMI | 28 November 2020

Alfamart dan Danone SN Indonesia Gelar Pelatihan UKM Sabang-Merauke

Lebih dari 1.000 orang pelaku UKM mengikuti pelatihan yang digelar pada hari Jumat, 27 November 2020, sejak pukul 08.00 WIB, dengan menghadirkan Sandiaga Uno.

EKONOMI | 28 November 2020

Winland Development Hadirkan Hunian Minimalis Seharga Rp 250 Juta

Winland Development menghadirkan Gardenia Cileungsi yang mengadopsi konsep modern minimali dengan harga pemasaran antara Rp 168 juta hingga Rp 250 juta.

EKONOMI | 28 November 2020

Teten: Peran Koperasi Syariah Strategis Dalam Pengembangan Ekonomi Umat

KSPPS Unit Usaha Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (USPPS), menjadi sangat strategis pada saat pandemi.

EKONOMI | 28 November 2020

Kapitalisasi IHSG Menguat 3,8% dalam Sepekan

Kapitalisasi pasar bursa turut mengalami peningkatan yang sama dengan IHSG yaitu sebesar 3,8% atau mencapai Rp6.720,947 triliun dari Rp6.474,868 triliun.

EKONOMI | 28 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS