PII: Pengembangan Teknologi Transportasi Butuh Kolaborasi
Kamis, 17 Desember 2020 | 20:26 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pesatnya perkembangan teknologi baru di sektor transportasi, membutuhkan dukungan pemerintah untuk bersinergi dengan negara lain.
"Kesenjangan infrastruktur dan implementasi inovasi teknologi baru di sektor transportasi di berbagai negara membuka peluang bagi negara dan badan usaha di seluruh dunia untuk bekerja sama," kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto, Kamis (17/12).
Heru menegaskan, insinyur kolaborator merupakan pihak ketiga yang penting untuk mengkatalisasi penyebaran inovasi teknologi di sektor transportasi.
"Kami dengan senang hati berkolaborasi dengan mitra insinyur dari negara lain untuk terlibat dalam transfer teknologi dan aplikasi teknologi disruptif sektor transportasi, karena peluang terbuka luas di banyak kota urban di Indonesia," katanya.
Kerja sama teknologi sektor transportasi secara nyata dapat dilihat dari pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang sedang berlangsung. Pembangunan infrastruktur tersebut menggunakan skema kerja sama business to business (B2B) oleh BUMN Indonesia dan Beijing Yawan HSR Co Ltd. Adapun perkembangan pembangunan kereta cepat tersebut telah mencapai 60 persen.
Dengan semakin banyaknya inovasi teknologi baru, kata Heru, kolaborasi dan peluang bisnis antara negara di luar negeri dan Indonesia menjadi tidak terhitung.
"Kerja sama dalam pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung membuktikan kolaborasi dan bisnis dari berbagai negara dapat mengkatalisasi dampak positif dari inovasi teknologi di negara berkembang," tandasnya.
Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengatakan, Indonesia memiliki pasar industri otomotif yang sangat besar. Pemerintah pun mendorong perguruan tinggi untuk terus melakukan penelitian dan pengembangan kendaraan otonom atau kendaraan tanpa pengemudi.
BACA JUGA
Kemhub Mulai Bangun Pelabuhan Sanur
"Pengembangan kendaraan otonom dibutuhkan di ibu kota negara baru yang rencananya dibangun di Kalimantan Timur," ujarnya.
Dalam 5 hingga 10 tahun mendatang, pemerintah memperkirakan penjualan kendaraan otonom dapat melampaui mobil konvensional saat ini. Berbagai keunggulan kendaraan otonom seperti kemampuan mengurangi emisi karbon, mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya, serta kemampuan ketepatan waktu diprediksi menjadi faktor pendorong tingginya penjualan kendaraan otonom di masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




