ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jangka Panjang, LPI Bisa Tarik Investasi hingga US$ 200 Miliar

Kamis, 28 Januari 2021 | 13:37 WIB
LO
FB
Penulis: Lona Olavia | Editor: FMB
Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi.
Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris)

Jakarta, Beritasatu.com - Sovereign wealth fund (SWF) Indonesia yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang dibentuk pemerintah Indonesia diyakini secara jangka panjang dapat menyedot investasi hingga US$ 200 miliar.

"Kami akan berproses dengan target jangka pendek, menengah untuk mencapai asset value US$ 20 miliar. Tapi, untuk jangka panjang saya rasa untuk capai asset value US$ 200 miliar bukan sesuatu yang impossible, karena memang asset base-nya ada," kata Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau yang akrab disapa Tiko dalam BRI Group Economic Forum 2021 "Indonesia Economic Recovery, Opportunities in The Time of Pandemic" yang digelar secara virtual, Kamis (28/1/2021).

Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat menyampaikan optimismenya akan ada aliran dana masuk sampai U$ 20 miliar setelah SWF beroperasi dalam waktu dekat. Angka tersebut diyakini bisa terhimpun dalam kurun waktu 1-2 bulan setelah INA beroperasi pada Februari atau Maret 2021 ini.

Namun, Tiko mengatakan, besaran investasi tersebut akan bergantung dari aset yang akan ditawarkan ke investor. Kementerian BUMN, sebutnya baru akan melakukan kerja sama pada sepertiga atau seperempat dari perusahaan BUMN dengan estimasi kapitalisasi pasar senilai Rp 2.000-Rp 3.000 triliun. Adapun, Kementerian BUMN memiliki total nilai aset mencapai Rp 8.000 triliun.

ADVERTISEMENT

Kementerian BUMN dikatakan Tiko, dalam tahap awal sudah menyiapkan proyek-proyek brownfield antara lain jalan tol, pelabuhan dan bandara. Namun, ke depan, pihaknya tengah menyiapkan proyek andalan lainnya, sebut saja seperti infrastruktur 5G, kesehatan, perhotelan, energi dan sebagainya yang belum terlalu banyak diinvestasikan oleh asing.

"Target jangka pendek menengah bisa kumpulkan value investasi US$ 20 miliar tergantung jenis aset yang diharapkan investor. Itu tidak mudah karena menyatukan minat investor ini polanya harus ada negosiasi dan pola investasinya, bagaimana valuasi, dan struktur cash flow-nya. Setahun pertama, kita harus belajar bagaimana INA ini bisa membangun kerja sama investasi yang saling menguntungkan baik untuk BUMN yang dikerjasamakan, termasuk bagaimana pengelolaannya ke depan," jelas dia.

Lebih lanjut, Tiko mencontohkan ada beberapa BUMN yang sukses dari aksi penyuntikan modal asing untuk meningkatkan kualitas aset di dalam negeri. Sebut saja, Telkom, BRI, Mandiri, BNI, dan Jasa Marga yang kapitalisasi pasarnya tumbuh signifikan sejak initial public offering (IPO).

INA, ditambahkan Tiko memang dipastikan akan bergerak cepat untuk menarik investasi dari pemilik dan pengelola dana jumbo di banyak negara. Apalagi, saat ini tren penanaman modal di dunia berubah, tak hanya masuk portfolio seperti saham dan obligasi, namun banyak pemilik dana yang juga berminat masuk dalam proyek. "Kondisi saat ini menjadi momentum bagus bagi INA untuk memulainya, dengan melihat imbal hasil di banyak negara turun, suku bunga rendah. Mereka tentu ingin mendapatkan imbal hasil yang menarik," katanya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon