Ikatan Arsitek Indonesia Siap Beri Masukan ke Pemerintah Perihal Desain Istana Negara
Sabtu, 3 April 2021 | 15:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ariko Andikabina menegaskan, IAI siap memberikan masukan terkait pradesain Istana Negara di ibu kota negara yang baru di Kalimantan Timur.
Hal Ini disampaikan menyusul pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengharapkan masukan terhadap pradesain Istana Negara karya seniman patung Nyoman Nuarta yang sarat dengan filosofi lambang Burung Garuda.
Jokowi dalam akun Instagram @jokowi mengatakan akan mengundang kembali para arsitek dan para ahli lainnya untuk melakukan pengkayaan pradesain menjadi basik desain Istana Negara.
"Bapak Presiden menyampaikan akan meminta masukan terkait desain Istana Negara. Tentu kami menanti apabila beliau kemudian mengundang kami ke istana untuk memberikan masukan terhadap rencana ibu kota negara yang baru," kata Ariko saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (3/4/2021).
Ariko menyampaikan, AIA dan asosiasi arsitek lainnya mengusulkan desain bangunan gedung istana agar disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun tata ruangnya.
"Yang ingin kami dorong, yang disampaikan Bapak Jokowi kan baik ya dalam hal membuka komunikasi dan masukan dari masyarakat. Menurut saya justru terkait dengan desain dan pengalaman kami, cara yang paling pas untuk menjaring aspirasi dan pikiran terbaik terkait dengan istana Negara adalah melalui sayembara," kata Ariko.
Sebelumnya dalam surat pernyataan bersama Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia , Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP), ada tiga hal yang direkomendasikan terkait desain Istana Negara.
Pertama, Istana Negara versi burung Garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu yang menjadi tengaran (landmark) pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), dan dilepaskan dari fungsi bangunan istana.
Kedua, desain bangunan gedung istana agar disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun tata ruangnya termasuk target menjadi model bangunan sehat beremisi nol.
Ketiga, terkait kepentingan awal pembangunan IKN, memulai pembangunan tidak harus melalui bangunan gedung, tetapi dapat melalui Tugu Nol yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap hutan hujan tropis seperti penanaman kembali pohon endemik Kalimantan yang nantinya menjadi simbol bahwa pembangunan IKN memang merepresentasikan keberpihakan pada lingkungan, yaitu "membangun hutan terlebih dahulu baru membangun kotanya" sebagaimana disebutkan dalam konsep sayembara Nagara Rimba Nusa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




