ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jaga Stabilitas Sistem Keuangan Domestik, BI Putuskan Tahan Suku Bunga Acuan Level 3,5%

Selasa, 21 September 2021 | 15:14 WIB
TP
B
Penulis: Triyan Pangastuti | Editor: B1
Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan pidato sambutan di acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2020 yang digelar secara virtual, Kamis (3/12/2020). Bank Indonesia (BI) menargetkan laju ekspansi kredit perbankan tahun 2021 sebesar 7% sampai 9%. Target ini bisa dicapai karena suku bunga dalam tren menurun dan berbagai indikator ekonomi makro membaik.
Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan pidato sambutan di acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2020 yang digelar secara virtual, Kamis (3/12/2020). Bank Indonesia (BI) menargetkan laju ekspansi kredit perbankan tahun 2021 sebesar 7% sampai 9%. Target ini bisa dicapai karena suku bunga dalam tren menurun dan berbagai indikator ekonomi makro membaik. (BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah/Emral Firdiansyah)

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan alias BI 7 days reverse repo rate di level 3,50% dan menahan suku bunga deposit facility sebesar di level 2,75% dan suku bunga lending facility di level 4,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, ini sejalan dengan perlunya bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan karena ketidakpastian di pasar keuangan global.

"Juga di tengah perkiraan inflasi yang rendah, serta upaya kami dalam mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi di tengah Covid-19.," ujar Perry dalam Konferensi Pers RDG, Selasa (21/9/2021).

Perry menambahkan, BI tetap akan mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dan mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

Disisi lain, BI juga menyebut akan mempertimbangkan kondisi terkini ekonomi global dan ekonomi domestik. Pemulihan perekonomian global diperkirakan berlanjut meskipun dampak kenaikan kasus Covid-19 dan gangguan rantai pasokan di beberapa negara perlu diwaspadai.

Kemudian di Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Jepang, laju pemulihan ekonomi pada paruh kedua 2021 cenderung lebih lambat dari perkiraan.

Tak hanya itu, pemulihan ekonomi di berbagai negara kawasan Eropa dan Amerika Latin cenderung lebih tinggi sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi global.

Selanjutnya, kinerja perekonomian domestik diperkirakan kembali membaik secara bertahap.  "Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kembali membaiknya mobilitas masyarakat sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas sebagai dampak respons penanganan Covid-19 yang semakin baik," tuturnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon