Perolehan Devisa Alas Kaki Bali Merosot
Senin, 26 November 2012 | 11:14 WIB
Konsumen negara di kawasan Eropa mengalami krisis ekonomi, sedangkan barang kerajinan masyarakat Bali itu hampir 45 persen dijual ke Belanda, Jerman, dan Italia
Perolehan devisa alas kaki yang diekspor dari Bali anjlok 34 persen dari US$3,4 juta selama Januari-September 2011 menjadi US$2,2 juta dalam periode yang sama tahun ini.
Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada, di Denpasar, Senin (26/11), menduga anjloknya nilai ekspor alas kaki itu sebagai dampak dari krisis ekonomi global.
Menurut dia, konsumen negara di kawasan Eropa mengalami krisis ekonomi, sedangkan barang kerajinan masyarakat Bali itu hampir 45 persen dijual ke Belanda, Jerman, dan Italia, sisanya ke beberapa negara lain.
Ia mengemukakan, konsumen Jerman membeli sekitar 9,5 persen dari seluruh ekspor alas kaki tersebut, Italia hanya mengimpor sekitar 8,2 persen, Amerika Serikat 6,7 persen dan sisanya adalah puluhan negara lainnya.
"Ekspor kami masih lumayan baik terutama perdagangan garmen dan hasil kerajinan lainnya dari berbagai jenis barang antik masih bagus kecuali sepatu dan sendal," kata Putu Suyasa eksportir di Denpasar.
Pasar ekspor memang menginginkan mata dagangan yang unik dari Bali, seperti sandal yang terbuat dari pelepah pisang dan daun. Sandal model begitu untuk memenuhi permintaan pasar Italia.
Tidak saja wisatawan asing yang berburu dompet atau sepatu unik di toko-toko seni di Bali, melainkan juga wisatawan dalam negeri.
Sektor pariwisata memberikan andil yang besar dalam mendorong laju ekspor aneka kerajinan ke luar negeri, termasuk alas kaki jenis sepatu kain yang dipasangi manik-manik yang banyak diproduksi kaum wanita tersebut.
Anak-anak remaja putri yang berlibur ke Bali banyak yang menyenangi dan membeli sepatu maupun sandal antik buatan masyarakat Bali, baik dipakai sendiri maupun sebagai cenderamata.
Perolehan devisa alas kaki yang diekspor dari Bali anjlok 34 persen dari US$3,4 juta selama Januari-September 2011 menjadi US$2,2 juta dalam periode yang sama tahun ini.
Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada, di Denpasar, Senin (26/11), menduga anjloknya nilai ekspor alas kaki itu sebagai dampak dari krisis ekonomi global.
Menurut dia, konsumen negara di kawasan Eropa mengalami krisis ekonomi, sedangkan barang kerajinan masyarakat Bali itu hampir 45 persen dijual ke Belanda, Jerman, dan Italia, sisanya ke beberapa negara lain.
Ia mengemukakan, konsumen Jerman membeli sekitar 9,5 persen dari seluruh ekspor alas kaki tersebut, Italia hanya mengimpor sekitar 8,2 persen, Amerika Serikat 6,7 persen dan sisanya adalah puluhan negara lainnya.
"Ekspor kami masih lumayan baik terutama perdagangan garmen dan hasil kerajinan lainnya dari berbagai jenis barang antik masih bagus kecuali sepatu dan sendal," kata Putu Suyasa eksportir di Denpasar.
Pasar ekspor memang menginginkan mata dagangan yang unik dari Bali, seperti sandal yang terbuat dari pelepah pisang dan daun. Sandal model begitu untuk memenuhi permintaan pasar Italia.
Tidak saja wisatawan asing yang berburu dompet atau sepatu unik di toko-toko seni di Bali, melainkan juga wisatawan dalam negeri.
Sektor pariwisata memberikan andil yang besar dalam mendorong laju ekspor aneka kerajinan ke luar negeri, termasuk alas kaki jenis sepatu kain yang dipasangi manik-manik yang banyak diproduksi kaum wanita tersebut.
Anak-anak remaja putri yang berlibur ke Bali banyak yang menyenangi dan membeli sepatu maupun sandal antik buatan masyarakat Bali, baik dipakai sendiri maupun sebagai cenderamata.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




