Cilacap Samudera Adopsi Teknologi Akuakultur Norwegia
Minggu, 7 Agustus 2022 | 12:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA), perusahaan pengolahan perikanan berkolaborasi dengan Norwegian Engineers and Architects AS (NAS) terkait implementasi teknologi termutakhir akuakultur di Indonesia. Kolaborasi ini dilakukan melalui PT Asha Fortuna Corpora yang merupakan holding ASHA.
Kerja sama itu ditandai penandatangan nota kesepahaman oleh Komisaris Utama PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA) Asman dengan Direktur Utama Norwegian Engineers and Architects AS Svein Gunnar Endresen serta Direktur Utama ASHA William Sutioso dan Representatif NAS di Indonesia Widya Utama belum lama ini.
Baca Juga: IPO, Cilacap Samudera Fishing Industry Bidik Dana Rp 156 M
"Dalam kesepakatan itu, Cilacap Samudera Fishing Industry berharap dapat mengadopsi teknologi terbaru yang dikembangkan Norwegian Engineers and Architects AS (NAS) untuk meningkatkan produktivitas demi memenuhi permintaan perikanan," kata William Sutioso dalam keterangan tertulisnya Minggu (7/8/2022).
Dia mengatakan Cilacap Samudera Fishing Industry menilai NAS terdepan dalam teknologi budidaya perikanan. Seperti yang diketahui, di Indonesia terkenal dengan salmon norwey. "Namun kita tidak bisa membudidayakannya di negara tropis, dengan mengadopsi teknologi Norwegia perusahaan bisa mengembangkan budidaya perikanan di negara tropis," tutur William.
Dalam implementasinya, perusahaan asal Norwegia ini akan mengirim para ahli untuk melakukan feasibility studies terkait akuakultur di Indonesia. Lebih detail, para peneliti akan menerapkan akuakultur dengan system closed-loop, yaitu system pembudidayaan komoditas perikanan di darat dengan metode ruang tertutup.
William menegaskan, dengan menerapkan system closed-loop ini, bio-security dapat dikontrol. Berbeda dengan budidaya di lepas pantai yang jauh lebih riskan mengingat banyak faktor eksternal yang tidak dapat dikontrol. "Langkah ini juga lebih ramah lingkungan karena limbah sisa budidaya (bio-waste) dapat dikontrol sehingga mengurangi pencemaran lingkungan," kata dia.
Kajian tersebut rencananya akan dilakukan di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) di atas lahan seluas 30 hektare. Area ini sengaja dipilih mengingat sanitasi air di wilayah tersebut masih bersih serta jauh dari lingkungan pabrik. Dengan perlakuan tersebut, perseroan berharap dapat menghasilkan ikan berkualitas tinggi dengan jumlah produktivitas besar.
William Sutioso menyatakan nilai kerja sama ini diprediksi berkisar US$ 80 juta. Sekitar 85% dana pengembangannya diperoleh dari soft loan yang disediakan pemerintah Norwegia.
Baca Juga: RI Berpotensi Jadi Negara Akuakultur Papan Atas Dunia
Dia mengatakan proses instalasi infrastruktur teknologi NAS akan rampung pada kuartal IV 2023 sehingga proses produksi dapat dilakukan pada awal 2024. Dengan teknologi ini, produksi akuakultur ditargetkan mencapai 3.000-5.000 ton dengan kualitas premium yang difokuskan untuk permintaan pasar Eropa dan Amerika.
William berharap adopsi teknologi NAS dapat mengurangi hambatan proses budidaya perikanan dari segi infrastruktur. Adapun komoditas yang akan dibudidayakan, yakni udang vaname, ikan baramundi, dan lobster.
Sebagai representatif Norwegian Engineers and Architects AS di Indonesia, Widya Utama, mengatakan, dengan menggunakan teknologi NAS untuk sektor perikanan, Indonesia bisa menjadi role model dalam budidaya ikan berkualitas. Hal ini sejalan dengan harapan World Bank agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan komoditas perikanan di seluruh dunia.
Widya mengatakan tanpa implementasi akuakultur., jumlah produksi perikanan akan stagnan sehingga tidak dapat mengimbangi peningkatan permintaan pangan yang diprediksi mencapai 70% di tahun 2030 mendatang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




