Dana Kelolaan BPJS Ketenagakerjaan Tembus Rp 603 Triliun
Kamis, 8 September 2022 | 19:54 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek mencatat dana kelolaan sebesar Rp 603 triliun pada Kamis, 8 September 2022. Imbal hasil investasi (yield on investment/YoI) diyakini bisa tembus 7% di tahun ini.
"Sekarang Rp 603 triliun, target akhir tahun Rp 612 triliun hingga Rp 615 triliun," beber Direktur Pengembangan Investasi BP Jamsostek Edwin Michael Ridwan saat ditemui di Plaza BP Jamsostek, Jakarta, Kamis (8/9/2022).
Berdasarkan laporan keuangan BPJS Ketenagakerjaan dana investasi tahun 2021 mencapai Rp 554,21 triliun, yang di antaranya dana jaminan sosial dan dana badan. Ketika itu, dana kelolaan terbesar masih dicatatkan pada program jaminan hari tua (JHT) dengan kontribusi 67,21% atau sebesar Rp 372 triliun.
Edwin menerangkan, penempatan investasi terbesar saat ini masih berada di portofolio surat utang negara dengan porsi sampai dengan 65% atau cukup lebar dibandingkan ketentuan minimum sebesar 50%. Saat ini perseroan mulai menyebar dana kelolaan ke berbagai instrumen di luar deposito guna mengoptimalkan imbal hasil.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Permudah Pekerja BPU Daftar Jadi Peserta
Di awal tahun, kata Edwin, deposito BPJS Ketenagakerjaan sempat mencapai Rp 100 triliun dan kini nilai deposito telah susut menjadi sekitar Rp 75 triliun. Nilai itu dipercaya akan terus menyusut meskipun diakui imbal hasil dari deposito mulai menunjukkan peningkatan.
"Seperti diketahui kan deposito kan bunganya tidak terlalu bagus ya walaupun sudah mulai naik tapi mungkin rata-rata masih 3% sedangkan kita punya target (YoI) kan 6,5% sampai 7%. Jadi kita harus tempatkan di instrumen lain terutama surat utang negara," jelas dia.
Meski begitu, upaya BPJS Ketenagakerjaan untuk menempatkan dana pada instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi seperti surat utang negara menemui sejumlah tantangan. Menurut Edwin, masih besarnya penempatan pada deposito belum bisa ditangkap pasar sepenuhnya.
"Masalahnya adalah likuiditas di market ini gak terlalu mumpuni untuk size kita sekarang. Jadi mungkin kita setiap hari hanya bisa belanja kalau untuk SUN sekitar Rp 600 hingga Rp 700 miliar. Jadi untuk sekarang kita deposito aja masih ada sekitar Rp 75 triliun dan itu iuran masih terus masuk. Jadi kita untuk membelanjakan Rp 70 triliun misalnya, mungkin butuh 100 hari kerja," terang Edwin.
Sementara untuk instrumen saham, dia mengakui bahwa belakangan kondisinya jauh lebih baik. Begitu juga portofolio BP Jamsostek di sektor-sektor komoditas. Tetapi juga diakui beberapa portofolio saham di beberapa emiten masih membukukan unrealized loss, khususnya emiten di sektor makanan dan minuman.
Edwin meyakini, ke depan emiten di sektor-sektor yang belum bisa bangkit bisa berkinerja lebih baik lagi meskipun situasi masih menantang. Dengan begitu, dana dari portofolio saham yang dirasa menguntungkan bisa dicairkan dan kembali dialokasikan pada emiten yang dinilai prospektif.
"Kita memang strateginya secara nominal ga tambah (dana). Pada saat market naik ya kita jualan take profit terus market turun kita beli dengan uang yang sama. Jadi nominal ga tambah, tentunya sekarang portofolio kita setiap bulan ada iuran baru jadi persentase saham itu secara natural ya akan turun," jelas Edwin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




