Konflik Trump vs Musk Bisa Ubah Amerika, Siapa yang Bakal Menang?
Sabtu, 7 Juni 2025 | 10:59 WIB
Washington, Beritasatu.com - Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan miliarder Elon Musk resmi retak pada Kamis (5/6/2025), yang memicu pertukaran sindiran tajam yang mengejutkan publik dan pejabat pemerintahan.
Ketegangan bermula ketika Musk mengkritik RUU anggaran super Partai Republik, one big, beautiful bill act (OBBBA), dan menyebut Trump menderita sindrom gangguan Trump. Sebagai balasan, Trump menyebut Musk tidak tahu berterima kasih dan menudingnya mencampuri politik demi keuntungan pribadi.
Dalam sebuah unggahan di media sosial X, Musk menyatakan Trump tidak akan terpilih tanpa bantuan keuangan darinya, dan menuduh presiden berbalik arah seusai menjalin hubungan dekat selama kampanye 2024.
Seorang pejabat anonim kepada CNN meyakini keretakan ini baru akan terjadi Agustus nanti. Namun, percepatan konfrontasi ini memunculkan spekulasi dampak politik besar, baik bagi Trump maupun Musk.
Menurut para analis, pertikaian ini bisa menjadi bumerang politik, terutama menjelang pemilu paruh waktu 2026. Dengan kekuatan finansial dan pengaruh digitalnya, Musk dipandang mampu menggoyahkan dukungan Partai Republik di Kongres.
Menurut pengamat, konfrontasi ini dapat mengakibatkan konsekuensi serius baik bagi Trump maupun Musk. Karena tidak ada pihak yang menang ketika hubungan aliansi yang dulu hangat berubah menjadi buruk.
OBBBA telah disahkan oleh DPR dengan selisih tipis 215-214, dan kini tengah ditinjau Senat. RUU ini dirancang untuk memangkas pengeluaran sebesar US$ 1,6 triliun dan memberi pemotongan pajak besar-besaran. Namun, banyak Republikan khawatir RUU ini justru dapat memperbesar defisit dan mengancam kursi mereka dalam pemilu berikutnya.
Musk berencana melobi senator Republik agar menolak OBBBA, bahkan mengisyaratkan kemungkinan mendanai lawan politik yang sejalan dengannya.
Senat berencana melakukan perubahan besar pada OBBBA, yang berarti RUU itu harus dikembalikan ke DPR sebelum Trump dapat menandatanganinya. Target pengesahan sebelum 4 Juli pun kini terancam.
Tak tinggal diam, Trump mengancam akan mencabut seluruh kontrak federal dengan perusahaan milik Musk seperti SpaceX dan xAI, yang nilainya diperkirakan mencapai US$ 18 miliar. Hal ini membuat saham Tesla merosot tajam, dengan kehilangan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 150 miliar dalam satu hari, sebuah penurunan terbesar sepanjang sejarah perusahaan.
Seorang pejabat mengatakan, Musk kini akan kesulitan mendapat simpati dari pemerintahan Trump untuk urusan bisnisnya.
Musk memperkeruh suasana dengan mengklaim bahwa pemerintah Trump menunda merilis dokumen terkait Jeffrey Epstein karena nama Trump tercantum di dalamnya. Klaim ini langsung dimanfaatkan oleh politisi Demokrat untuk menekan Trump.
Steve Bannon, mantan penasihat strategis Trump, bahkan menuduh Musk sebagai imigran ilegal dan mendesak deportasinya. Bannon juga menyerukan penyitaan SpaceX bila Musk terus menantang pemerintah.
Musk, yang lahir di Afrika Selatan, memang datang ke AS pada 1992 dan baru menjadi warga negara AS satu dekade kemudian. Tuduhan ini diyakini sebagai bagian dari strategi Trump untuk membungkam sang miliarder.
Dalam langkah mengejutkan, Musk memposting jajak pendapat di X yang menanyakan apakah ia harus membentuk partai politik baru. Hasilnya, 81% dari 3,5 juta suara menjawab "ya".
Aktivis sayap kanan Laura Loomer menyebut konflik ini sebagai pertarungan antara orang paling berkuasa dan orang terkaya di dunia.
Banyak politisi Republik kini terpecah. "Saya tahu ada orang yang bertanya-tanya apakah mereka harus berpihak pada Presiden Trump atau Elon," ujar Loomer.
Partai Demokrat belum mengambil posisi resmi, tetapi mulai membuka komunikasi dengan Musk. Anggota DPR Ro Khanna menyarankan partainya berdialog dengan Musk, yang kini sama-sama menentang RUU OBBBA.
Analis Demokrat Liam Kerr menyebut keterlibatan Musk bisa menjadi senjata politik dua arah. "Apa pun yang menguntungkan Demokrat akan merugikan Republik," katanya.
Konflik terbuka antara Trump dan Musk bukan sekadar perseteruan personal, tetapi bisa mengubah peta politik dan ekonomi AS. Dengan ambisi besar dan sumber daya tak terbatas, Musk kini muncul sebagai kekuatan politik alternatif yang mampu menantang dominasi Partai Republik dan Trump di panggung nasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




