Trump Sebut Ukraina Harus Relakan Krimea, Zelensky Cari Dukungan
Senin, 18 Agustus 2025 | 16:42 WIB
Washington, Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Ukraina tidak mungkin merebut kembali Krimea maupun bergabung dengan NATO. Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan Trump di Washington, Senin (18/8/2025), dalam rangkaian perundingan untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Zelensky, yang konsisten menolak konsesi teritorial, tiba di Washington didampingi Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen serta sejumlah pemimpin Eropa lainnya. Pertemuan ini berlangsung setelah KTT Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat (15/8/2025) lalu. Meski gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata, keduanya berjanji memberikan jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina.
Trump bahkan menulis di media sosialnya, “Zelenskyy bisa mengakhiri perang dengan Rusia hampir seketika jika ia mau, atau memilih terus berjuang. Ingat bagaimana semuanya dimulai. Obama tidak melakukan apa pun saat Krimea direbut tanpa satu tembakan pun, dan Ukraina tidak akan masuk NATO. Beberapa hal tidak pernah berubah!”.
Gedung Putih menjadwalkan pertemuan empat mata antara Trump dan Zelenskyy sebelum bergabung dengan para pemimpin Eropa, termasuk Sekjen NATO Mark Rutte, serta para pemimpin Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Finlandia.
Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Zelenskyy ke Washington sejak perselisihannya dengan Trump dan Wakil Presiden JD Vance pada Februari 2025 lalu, ketika keduanya menudingnya tidak tahu berterima kasih. Sesaat setelah tiba di AS, Zelensky menegaskan, semua pihak memiliki keinginan kuat untuk mengakhiri perang ini dengan cepat.
Trump menyebut dirinya membahas kemungkinan jaminan pertahanan kolektif ala NATO bagi Ukraina bersama Putin. Namun, jaminan tersebut berada di luar kerangka aliansi Barat resmi karena dianggap sebagai ancaman serius oleh Rusia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan, para pemimpin Eropa akan menanyakan sejauh mana AS siap memberikan kontribusi nyata terhadap jaminan keamanan tersebut.
Utusan Trump, Steve Witkoff, menyebut Moskow telah membuat beberapa konsesi terkait wilayah Ukraina yang dikuasainya, khususnya Donetsk. Namun, detail kesepakatan baru akan dibahas dalam pertemuan lanjutan.
Rusia sebelumnya mencaplok Krimea pada 2014 melalui referendum ilegal, serta mengeklaim empat wilayah Ukraina—Donetsk, Kherson, Lugansk, dan Zaporizhzhia—pada 2022, meski belum sepenuhnya menguasai semua wilayah tersebut.
Sumber diplomatik menyebut Trump cenderung mendukung tuntutan Rusia agar wilayah Donbas, termasuk Donetsk dan Lugansk, diberikan meski masih dikuasai sebagian. Sebagai imbalan, Moskow dikabarkan siap membekukan garis depan di Kherson dan Zaporizhzhia.
Namun, Rusia tetap bersikeras Ukraina harus menarik pasukan dari empat wilayah tersebut sebagai syarat perdamaian.
Kekhawatiran Eropa
Beberapa pemimpin Eropa khawatir Washington akan menekan Ukraina menerima persyaratan Rusia. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menegaskan, agar perdamaian terwujud, tekanan harus diberikan kepada pihak agresor, bukan korban.
Macron menambahkan, satu-satunya usulan perdamaian yang menyerupai kapitulasi datang dari Rusia.
Meski Zelensky menolak penyerahan wilayah, ia tetap membuka kemungkinan membahasnya dalam konteks pertemuan trilateral dengan Trump dan Putin. Namun, Rusia sejauh ini mengecilkan prospek tersebut.
Sementara itu, di lapangan, pasukan Rusia terus maju perlahan di Donetsk. Serangan udara Rusia di Kharkiv pada Senin menewaskan tiga orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan terpisah di wilayah Sumy, dekat perbatasan, juga melukai dua orang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




