PBB Umumkan Darurat Kelaparan, Banyak Anak Gaza Jatuh Sakit dan Lemas
Senin, 25 Agustus 2025 | 18:37 WIB
Gaza, Beritasatu.com – Rumah-rumah hancur, persediaan makanan dan air semakin menipis, dan warga Gaza hanya bisa berdoa ketika hidup mereka kian terancam.
Sehari setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan bencana kelaparan di Gaza, pada Sabtu (23/8/2025), sekelompok perempuan dan anak-anak berdesakan di dapur umum amal di Kota Gaza. Mereka menangis sambil membawa pot dan ember plastik untuk sekadar mendapatkan makanan bagi keluarga.
Seorang anak laki-laki terlihat memunguti sisa nasi dengan tangannya, sementara seorang anak perempuan duduk di luar tenda mengambil butiran beras dari kantong plastik di tanah.
“Kami tidak punya rumah, tidak punya makanan, tidak punya penghasilan. Makanan dari dapur umum pun sangat sedikit, tidak cukup untuk menghilangkan rasa lapar,” kata Yousef Hamad (58 tahun), pengungsi dari Beit Hanoun, Gaza utara.
Di dapur umum Deir el-Balah, Umm Mohammad (34 tahun) mengatakan bahwa PBB terlambat menyatakan status kelaparan. “Anak-anak terhuyung-huyung karena lapar, bahkan tidak bisa bangun akibat kekurangan makanan dan air,” ujarnya.
Pada Jumat (22/8/2025), PBB menyatakan bencana kelaparan di Gaza, menuding Israel telah secara sistematis menghalangi bantuan selama lebih dari 22 bulan konflik.
Menurut Inisiatif Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sekitar 500.000 orang di Gaza terdampak kelaparan. IPC memperkirakan krisis ini akan meluas ke Deir el-Balah dan Khan Younis pada akhir September, mencakup hampir dua pertiga wilayah Gaza.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak laporan tersebut dan menyebutnya “rekayasa”. Sementara itu, Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA, mendesak Israel berhenti menyangkal krisis dan meminta tokoh dunia untuk bersuara.
Di lapangan, Israel tetap melancarkan serangan udara dan artileri. Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyebut distrik Sabra dan Zeitun telah rata dengan tanah.
“Kami hidup dalam ketakutan, tidak ada tempat aman. Pindah sama saja dengan mati,” kata Ahmad Jundiyeh (35 tahun), pengungsi di utara Zeitun.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan mengancam akan menghancurkan Kota Gaza jika Hamas menolak melucuti senjata, membebaskan sandera, dan menerima syarat Israel.
Banyak warga akhirnya mengungsi. “Baru pagi ini, 500–600 keluarga meninggalkan Kota Gaza. Kemarin ribuan orang sudah dievakuasi,” ujar Mahmud Abu Saqer (24 tahun).
Sejak perang pecah pada Oktober 2023, setelah serangan Hamas yang menewaskan 1.200 orang di Israel selatan, lebih dari 62.600 warga Palestina telah tewas akibat serangan balasan Israel, sebagian besar adalah warga sipil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




