China Soroti Pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump Tanpa Bahas Nuklir
Selasa, 23 September 2025 | 09:43 WIB
Beijing, Beritasatu.com - Pemerintah China menyatakan memberi perhatian khusus terhadap pernyataan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un yang siap bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tetapi tanpa membicarakan denuklirisasi.
“China memperhatikan perkembangan di Semenanjung Korea. Semenanjung Korea yang damai dan stabil serta penyelesaian politik atas masalah di sana merupakan kepentingan semua pihak,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (22/9/2025).
Dalam pidatonya di hadapan Majelis Rakyat Tertinggi pada Minggu (21/9/2025), Kim Jong Un menegaskan Pyongyang siap kembali berdialog dengan Washington jika Amerika Serikat tidak menjadikan isu denuklirisasi sebagai agenda utama. Ia bahkan menyebut memiliki kenangan menyenangkan dengan Trump.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) mengutip Kim yang menyatakan “tidak ada alasan” bagi Korea Utara dan Amerika Serikat untuk menghindari dialog jika keduanya ingin hidup berdampingan secara damai.
Namun, Kim juga menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah meninggalkan senjata nuklir. Ia menyebut konsep denuklirisasi sudah menjadi masa lalu.
“Kami tidak akan pernah meletakkan senjata nuklir kami. Dunia tahu betul apa yang dilakukan AS setelah memaksa pihak lain meninggalkan program nuklirnya,” kata Kim.
Guo Jiakun berharap pihak-pihak terkait bisa menghadapi akar persoalan, tetap berpegang pada penyelesaian politik, serta berupaya meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.
“Kami berharap semua pihak tetap berkomitmen pada perdamaian dan stabilitas regional,” ujarnya.
China menilai dialog masih menjadi kunci agar situasi di Semenanjung Korea tidak semakin memanas.
Ini adalah pertama kalinya Kim berbicara langsung mengenai hubungannya dengan Trump sejak presiden AS itu memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025. Trump sendiri telah memberi sinyal ingin bertemu Kim dalam waktu dekat.
Kim dan Trump sebelumnya sudah tiga kali bertemu pada masa jabatan pertama Trump. Namun, pertemuan itu gagal mencapai kesepakatan menghentikan program nuklir Korea Utara.
Setelah itu, Pyongyang menolak bernegosiasi dengan Washington dan semakin memperkuat aliansinya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, termasuk memberi dukungan pada Rusia dalam perang di Ukraina.
Pada Juli 2025, adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat harus mengakui Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir jika ingin melanjutkan hubungan bilateral.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




