Bersahabat Dekat, Mengapa Putin Bungkam Saat Maduro Ditangkap AS?
Rabu, 14 Januari 2026 | 19:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Rusia dan Venezuela selama ini dikenal sebagai sahabat, salah satunya karena keduanya bekerja sama terkait minyak dunia. Mantan Presiden Nicolas Maduro bahkan membanjiri Presiden Rusia Vladimir Putin dengan pujian selama kunjungan kenegaraannya ke Moskow pada Mei 2025. Mantan pemimpin Venezuela itu menggambarkan Rusia sebagai kekuatan kunci umat manusia di dunia.
Namun saat Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi militer di Venezuela dan berakhir dengan penangkapan Maduro pada Sabtu (3/1/2026), Putin dan Rusia hanya diam, berdiri dan menyaksikan ketika AS secara paksa membawa Maduro dan istrinya terbang ke New York untuk diadili di pengadilan federal atas dakwaan narkoterorisme termasuk perdagangan narkoba di dalamnya.
Tak hanya saat hari kejadian, tiga hari setelah penangkapan Maduro, Putin diketahui tetap diam tak memberikan tanggapan resminya di saat sejumlah pemimpin negara telah merespons kejadian yang menggemparkan dunia ini. Meski Kementerian Luar Negeri Rusia merilis pernyataan yang menyatakan keprihatinannya dan menyerukan pembebasan Maduro serta negosiasi antara AS dan Venezuela.

Para ahli geopolitik menilai Rusia, tepatnya pasukan pertahanan udaranya gagal dalam melindungi sosok Maduro saat pasukan elite AS, Delta Force One melancarkan serangannya di Venezuela.
Secara historis, Rusia pernah menunjukkan dukungan militer simbolis kepada Venezuela. Pada Desember 2018, Moskow mengirim dua pesawat pembom strategis Tu-160 ke Caracas untuk latihan bersama. Langkah tersebut kala itu dipandang sebagai sinyal kuat dukungan Rusia terhadap pemerintahan Maduro. Pesawat-pesawat itu mendarat di bandara Caracas, bandara yang sama yang digunakan AS untuk menerbangkan pemimpin Venezuela itu dalam keadaan diborgol.
Mengapa Putin Diam tentang Trump?
Neil Melvin, pakar dari Royal United Services Institute menilai Rusia tidak berada dalam posisi untuk menantang pengerahan kekuatan militer AS di wilayah yang dianggap sebagai ‘teritori’ AS.
"Dukungan Rusia untuk Venezuela lebih bersifat simbolis daripada praktis," kata Neil.
Mengutip laporan Deutsche Welle, Rabu (14/1/2026), senada dengan Neil, Felix Riefer, ilmuwan politik asal Jerman dan penulis buku tentang kebijakan luar negeri Rusia, menyebut sikap diamnya Putin ini sebenarnya tidak mengejutkan.
Ia menilai perubahan dinamika global setelah kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, menjabat sebagai presiden untuk kedua kalinya begitu berperan besar.
“Setelah kembalinya Trump ke Gedung Putih yang menyebabkan rekonsiliasi antara Rusia dan AS, Rusia menanggapi isyarat AS terhadap Venezuela dengan relatif terkendali. Rusia telah meninggalkan Maduro,” ujar Felix.
Kedua pakar tersebut sepakat, fokus utama Rusia saat ini adalah perang yang masih berlangsung di Ukraina. Dengan konflik tersebut menguras sumber daya militer, ekonomi, dan politik, Moskow dan tentunya Putin berupaya menghindari konfrontasi baru dengan AS.
Neil menegaskan, Moskow ingin menghindari kritik keras terhadap Washington karena tidak ingin menyinggung perasaan. “Jika bukan karena perang melawan Ukraina, retorika Rusia tentang peristiwa di Venezuela akan jauh lebih keras dan tajam,” tegasnya.
Ia menilai belum ada konsekuensi langsung dari peristiwa di Venezuela terhadap perang di Ukraina. Namun, situasi bisa berubah jika AS melangkah lebih jauh dalam menjalankan kebijakan luar negerinya, misalnya dengan upaya mencaplok Greenland, wilayah yang masuk dalam kekuasaan Kerajaan Denmark yang baru-baru ini tengah menjadi ambisi orang nomor satu di AS tersebut.
Jika skenario itu terjadi, ahli memperkirakan aliansi militer North Atlantic Treaty Organization (NATO) bisa menghadapi tekanan serius. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen juga telah menyampaikan kekhawatirannya soal ini kepada publik.
Optimisme Hati-hati dari Ukraina
Di sisi lain, Ukraina memantau perkembangan di Venezuela dengan cermat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan pandangan tajam terkait penangkapan Maduro. Ia kala itu memilih menanggapi penangkapan Maduro dengan pernyataan yang relatif aman,
"Jika para diktator dapat diperlakukan seperti ini, maka AS tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya," ucap Zelensky.
Selanjutnya, Kementerian Luar Negeri Ukraina menegaskan kembali mereka tidak mengakui Maduro sebagai presiden dari Venezuela.
Para pakar politik di Ukraina, menilai sikap Zelensky adalah bentuk optimistisme namun tetap berhati-hati. Ilmuwan politik Petro Oleshchuk dari Universitas Nasional Taras Shevchenko Kyiv mengatakan, pasar global memperkirakan normalisasi hubungan AS–Venezuela dalam waktu dekat.
Normalisasi tersebut berpotensi membuka kembali produksi minyak Venezuela, yang dapat berdampak signifikan pada ekonomi global dan harga minyak dunia.
"Apa pun yang menurunkan harga minyak akan menguntungkan Ukraina dan dapat berdampak positif pada negosiasi. Semakin murah minyak, semakin sedikit uang yang dimiliki Rusia, sehingga anggapan Rusia siap untuk berperang terus menerus terlihat semakin tidak masuk akal," jelas Petro.
Reputasi Rusia di Mata Dunia Semakin Melemah
Para pakar juga menyoroti melemahnya posisi Rusia di panggung internasional. Felix menilai Rusia mungkin mencoba menggunakan kasus Venezuela untuk membenarkan agresinya terhadap Ukraina, meski perbandingan ini ia sebut keliru. Ia menegaskan reputasi Rusia telah merosot.
“Mereka yang bergantung pada Rusia tidak dapat berharap untuk dilindungi,” katanya.
Di sisi lain, Neil menambahkan ini bukan pertama kalinya Putin membiarkan sekutunya pergi. “Rusia telah kehilangan Armenia, Suriah, dan sekarang Venezuela,” tandas Neil.
Menurutnya, posisi internasional Rusia yang melemah secara nyata akibat perang di Ukraina dan keterbatasan sumber daya untuk mempertahankan pengaruh global jadi faktor penting.
Dalam konteks Amerika Latin, Kuba hingga sekarang dianggap masih menjadi mitra terpenting Rusia. Namun, bahkan dalam kasus Kuba, Neil menilai pilihan pemerintah Rusia tetap sangat terbatas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




