ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jika Selat Hormuz Ditutup, 4 Negara Asia Ini Paling Kena Dampaknya

Senin, 9 Maret 2026 | 10:29 WIB
LL
TE
Penulis: Lintang Leila | Editor: TCE
IRCG tengah berpatroli di Selat Hormuz.
IRCG tengah berpatroli di Selat Hormuz. (Google)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan mengenai kemungkinan penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Jalur laut strategis ini dikenal sebagai salah satu titik transit energi paling penting di dunia karena menjadi penghubung utama ekspor minyak dari Kawasan Teluk Persia menuju pasar global.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi internasional. Kekhawatiran ini terutama dirasakan oleh negara-negara di Kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah untuk menopang kebutuhan industri, transportasi, serta aktivitas ekonomi lainnya.

ADVERTISEMENT

Namun, Iran menegaskan Selat Hormuz sebenarnya belum sepenuhnya ditutup untuk seluruh kapal internasional. Pejabat militer dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka, tetapi kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu Barat dapat dibatasi atau dianggap sebagai target militer dalam kondisi konflik yang sedang berlangsung.

"Kami sebelumnya telah mengatakan, berdasarkan hukum dan resolusi internasional, pada masa perang, Republik Islam Iran akan memiliki hak untuk mengontrol jalur melalui Selat Hormuz," kata IRGC dalam pengumuman tersebut yang dikutip dari TBC News.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh yang menegaskan Selat Hormuz masih dapat dilalui oleh kapal-kapal yang mematuhi protokol keamanan yang diterapkan selama situasi perang.

Menurutnya, jalur tersebut tidak ditutup sepenuhnya, melainkan hanya diberlakukan pengaturan lalu lintas khusus demi menjaga keamanan kawasan.

"Kami belum menutup Selat Hormuz. Jika kami akan menutupnya, kami akan mengumumkannya. Selat itu belum ditutup oleh kami. Kami tidak berniat melakukannya sampai pemberitahuan lebih lanjut,” ujar Khatibzadeh.

“Pada masa perang, jalur melalui Selat Hormuz akan berada di bawah kendali Republik Islam Iran,” imbuhnya.

Meski demikian, situasi tersebut tetap memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia.

Oleh karena itu, memahami daftar negara Asia yang paling terdampak jika Selat Hormuz benar-benar ditutup menjadi penting. Hal ini dapat memberikan gambaran mengenai potensi dampak ekonomi global yang mungkin terjadi apabila jalur pelayaran tersebut terganggu.

Peran Selat Hormuz bagi Perdagangan Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang terletak di antara Iran dan Oman. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab, sehingga menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis dalam perdagangan energi global.

Dalam sistem perdagangan internasional, Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu chokepoint energi paling krusial di dunia. Setiap hari, sekitar 17 hingga 20 juta barel minyak melintasi jalur ini. Jumlah tersebut setara dengan hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia.

Tidak hanya minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute penting bagi perdagangan gas alam cair atau LNG. Sebagian besar ekspor LNG dari negara-negara Teluk, terutama Qatar, harus melewati Selat Hormuz sebelum dikirim ke berbagai negara tujuan.

Menariknya, sebagian besar energi yang melewati Selat Hormuz justru dikirim ke Kawasan Asia. Diperkirakan sekitar 80% hingga 84% minyak yang melintasi jalur ini berakhir di negara-negara Asia. Hal tersebut membuat Kawasan Asia sangat rentan terhadap gangguan distribusi energi apabila terjadi konflik atau penutupan jalur pelayaran.

Dengan peran yang sangat strategis tersebut, potensi penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.

Asia Paling Rentan terhadap Penutupan Selat Hormuz

Kerentanan Asia terhadap gangguan di Selat Hormuz terutama disebabkan oleh tingginya ketergantungan kawasan ini terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Banyak negara di Asia tidak memiliki cadangan minyak domestik yang cukup sehingga harus mengimpor energi dalam jumlah besar.

Data menunjukkan sejumlah negara, seperti China, India, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama minyak yang melewati Selat Hormuz. Negara-negara tersebut menyerap sebagian besar pasokan energi dari Kawasan Teluk.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang pesat di Asia juga mendorong peningkatan konsumsi energi secara signifikan. Ketika pasokan energi terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor energi saja, tetapi juga dapat merembet ke berbagai sektor lain, seperti industri manufaktur, transportasi, hingga kenaikan harga energi domestik.

Oleh karena itu, apabila jalur pelayaran ini benar-benar ditutup, negara-negara tersebut berpotensi menghadapi lonjakan harga energi sekaligus gangguan pada rantai pasok global.

1. China

Penutupan Selat Hormuz dapat menjadi ujian besar bagi ketahanan energi China. Meskipun demikian, negara ini dinilai masih memiliki cadangan serta sumber pasokan alternatif yang dapat menjadi penyangga sementara.

China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran. Selain itu, sekitar 30% impor LNG China berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sementara sekitar 40% impor minyaknya melewati Selat Hormuz.

Saat ini China memiliki cadangan LNG sekitar 7,6 juta ton yang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dalam jangka pendek. Namun jika gangguan pasokan berlangsung lama, China kemungkinan harus bersaing dengan negara lain untuk memperoleh kargo LNG dari Kawasan Atlantik.

Situasi tersebut berpotensi memperketat pasokan energi di Kawasan Pasifik sekaligus meningkatkan persaingan harga energi di seluruh Asia.

2. India

India juga termasuk negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari Kawasan Teluk. Sekitar 40% kebutuhan minyak India berasal dari Timur Tengah, sehingga setiap gangguan distribusi energi di wilayah tersebut dapat langsung memengaruhi stabilitas pasokan domestik.

Walaupun India telah berupaya melakukan diversifikasi sumber energi dalam beberapa tahun terakhir, Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting bagi suplai minyak menuju negara tersebut.

Apabila jalur pelayaran ini ditutup, India berpotensi menghadapi tekanan besar terhadap sektor energi nasional sekaligus terhadap stabilitas perekonomiannya.

3. Jepang dan Korea Selatan

Ketergantungan energi terhadap Kawasan Timur Tengah juga sangat tinggi di Jepang dan Korea Selatan. Negara-negara di kawasan ini memasok sekitar 75% impor minyak Jepang serta sekitar 70% impor minyak Korea Selatan.

Untuk LNG, ketergantungan kedua negara terhadap pasokan dari Teluk memang lebih rendah dibandingkan beberapa negara Asia Selatan. Korea Selatan memperoleh sekitar 14% LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sedangkan Jepang sekitar 6%.

Meski demikian, dampak terhadap harga energi tetap berpotensi signifikan. Cadangan energi mereka juga relatif terbatas. Korea Selatan memiliki sekitar 3,5 juta ton cadangan LNG, sementara Jepang sekitar 4,4 juta ton.

Jumlah tersebut diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama dua hingga empat minggu. Selain itu, impor minyak bersih Korea Selatan mencapai sekitar 2,7% dari produk domestik bruto (PDB).

Perusahaan keuangan Nomura bahkan menilai Korea Selatan sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap tekanan neraca transaksi berjalan apabila terjadi lonjakan harga energi global.

4. Thailand

Di Kawasan Asia Tenggara, dampak penutupan Selat Hormuz kemungkinan lebih terasa dalam bentuk kenaikan harga energi dibandingkan kekurangan pasokan secara langsung.

Negara-negara yang mengandalkan pembelian LNG di pasar spot berpotensi menghadapi biaya penggantian yang jauh lebih tinggi. Hal ini terjadi karena negara-negara Asia harus bersaing dengan Kawasan Eropa untuk mendapatkan pasokan LNG dari wilayah Atlantik.

Dalam konteks ini, Thailand disebut sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak di Kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut disebabkan oleh besarnya pengaruh faktor eksternal terhadap perekonomian negara tersebut.

Dampak Global jika Selat Hormuz Ditutup

Penutupan Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Gangguan distribusi energi di jalur strategis ini juga berpotensi memicu dampak ekonomi global yang lebih luas.

Para analis memperkirakan gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Bahkan dalam skenario ekstrem, harga minyak diperkirakan dapat menembus lebih dari US$ 100 per barel.

Lonjakan harga energi tersebut tidak hanya berdampak pada negara pengimpor minyak, tetapi juga dapat memicu inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Dengan hampir seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari, Selat Hormuz memegang peranan yang sangat penting dalam perdagangan energi internasional. Setiap gangguan yang terjadi di wilayah tersebut dapat memicu dampak besar bagi stabilitas ekonomi global.

Negara-negara Asia, seperti China, India, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan menjadi pihak yang paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah.

Oleh karena itu, memahami daftar negara Asia yang paling terdampak memberikan gambaran jelas mengenai betapa strategisnya peran Selat Hormuz dalam menjaga stabilitas energi dunia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Gedung Putih: AS-China Sepakat Selat Hormuz Harus Dibuka Kembali

Gedung Putih: AS-China Sepakat Selat Hormuz Harus Dibuka Kembali

INTERNASIONAL
Trump Tak Mau Minta Bantuan China untuk Atasi Konflik Selat Hormuz

Trump Tak Mau Minta Bantuan China untuk Atasi Konflik Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Dampak Perang AS-Iran, Kemasan Camilan Jepang Jadi Hitam Putih

Dampak Perang AS-Iran, Kemasan Camilan Jepang Jadi Hitam Putih

EKONOMI
Iran Semakin Gencar Ancam UEA, Ternyata Ini Penyebabnya

Iran Semakin Gencar Ancam UEA, Ternyata Ini Penyebabnya

INTERNASIONAL
Korea Selatan Pertimbangkan Dukung AS Amankan Selat Hormuz

Korea Selatan Pertimbangkan Dukung AS Amankan Selat Hormuz

INTERNASIONAL
China Dukung Mediasi Pakistan dalam Konflik AS-Iran

China Dukung Mediasi Pakistan dalam Konflik AS-Iran

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon