Iran Semakin Gencar Ancam UEA, Ternyata Ini Penyebabnya
Rabu, 13 Mei 2026 | 15:41 WIB
Abu Dhabi, Beritasatu.com – Di tengah eskalasi konflik yang terus memanas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, ada satu negara Teluk yang kini semakin sering disebut dalam berbagai pernyataan keras Teheran, yakni Uni Emirat Arab (UEA).
Negara yang selama ini dikenal sebagai pusat bisnis dan keuangan global tersebut kini berada di bawah sorotan tajam Iran. Teheran secara terbuka mulai menganggap UEA sebagai bagian dari pihak lawan dalam konflik yang terus berkembang di Kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Al Jazeera, para pejabat dan komandan militer Iran telah memperingatkan serangan lebih besar dapat diarahkan ke UEA apabila AS dan Israel kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Komando gabungan militer Iran Khatam al-Anbiya Central Headquarters, yang dipimpin para jenderal Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), bahkan secara langsung meminta para pemimpin UEA agar tidak menjadikan wilayah mereka sebagai pangkalan militer bagi AS dan Israel.
IRGC juga menyatakan pelabuhan strategis Fujairah milik UEA yang berada di kawasan Selat Hormuz termasuk dalam wilayah pengawasan maritim Iran. Karena itu, setiap kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan tersebut dianggap berada dalam yurisdiksi Iran.
Pelabuhan Fujairah diketahui sempat terkena serangan pada awal bulan ini, meski Iran membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.
UEA Balas Tekanan Iran
Di sisi lain, UEA beberapa kali mengecam serangan-serangan Iran dan menyatakan memiliki hak untuk membalas, termasuk melalui kekuatan militer. Sebagai respons atas meningkatnya ketegangan, UEA juga mulai mengambil langkah tegas terhadap kepentingan Iran di dalam negeri.
Negara Teluk tersebut mencabut visa sejumlah warga negara Iran yang telah lama tinggal di sana, sekaligus menutup berbagai bisnis, jalur perdagangan, jaringan penukaran mata uang, hingga lembaga-lembaga milik Iran di wilayahnya.
Runtuhnya hubungan kedua negara membawa dampak ekonomi serius bagi Iran. Selama bertahun-tahun, Teheran mengandalkan pelabuhan-pelabuhan UEA sebagai jalur masuk barang impor dari pasar ketiga, termasuk produk-produk asal China.
Kini, dengan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran dan tertutupnya akses melalui UEA, Iran terpaksa mencari jalur alternatif melalui Pakistan, Irak, Turki, dan negara-negara tetangga lainnya. Kondisi tersebut turut memicu lonjakan inflasi pangan yang kini menekan kehidupan jutaan warga Iran.
Akar Kecurigaan Iran terhadap UEA
Hubungan militer antara UEA dan AS sebenarnya bukan hal baru. Pangkalan udara al-Dhafra di pinggiran Abu Dhabi telah lama menjadi markas ribuan tentara AS dan dilengkapi sistem radar serta intelijen canggih.
Iran mengeklaim fasilitas tersebut menjadi salah satu target strategis selama perang berlangsung. Situasi semakin memanas setelah UEA menandatangani Abraham Accords pada 2020 bersama Bahrain dan Maroko untuk menormalisasi hubungan dengan Israel atas prakarsa Washington.
Sejak penandatanganan perjanjian itu, kerja sama militer dan intelijen antara UEA dan Israel berkembang pesat. Produsen senjata Israel, Elbit Systems, bahkan telah mendirikan anak perusahaan di UEA.
Dalam konflik yang berlangsung saat ini, Israel juga diketahui mengirim sistem pertahanan udara Iron Dome beserta puluhan personel militer ke UEA. Langkah ini disebut belum pernah dilakukan sebelumnya di negara Arab mana pun.
Duta Besar AS Mike Huckabee menyebut pengiriman tersebut sebagai simbol eratnya hubungan UEA dan Israel pasca-Perjanjian Abraham.
Tuduhan Keterlibatan Langsung UEA dalam Serangan terhadap Iran
Ketegangan semakin meningkat ketika media Israel melaporkan bahwa sekitar seminggu setelah perang dimulai pada akhir Februari lalu, jet tempur UEA disebut melancarkan serangan udara terhadap fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm, Iran.
Pejabat senior UEA langsung membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai berita palsu. Meski demikian, media pemerintah Iran terus mengembangkan narasi yang mengarah pada dugaan keterlibatan langsung UEA.
Salah satu program televisi pemerintah Iran bahkan menayangkan gambar puing-puing yang diklaim sebagai drone Wing Loong buatan China yang ditembak jatuh. Drone jenis itu sebelumnya diketahui pernah digunakan UEA dalam operasi melawan kelompok Houthi di Yaman.
Selain itu, sejumlah kanal Telegram yang terafiliasi dengan IRGC juga menyebarkan foto pesawat tempur Mirage 2000-9 milik UEA yang disebut terlihat terbang di atas wilayah selatan Iran.
Media-media pro pemerintah Iran kemudian melaporkan tanpa atribusi jelas pesawat tersebut diduga terlibat dalam serangan ke wilayah Iran. Analis yang dekat dengan Pemerintah Iran juga menyoroti video Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang terlihat dikawal jet tempur F-16E milik UEA dengan penanda nasional yang telah dihapus.
Mereka menafsirkan hal itu sebagai indikasi bahwa UEA mungkin menggunakan pesawat tersebut dalam operasi terhadap Iran sambil berupaya menyamarkan identitasnya.
Iran Balas Serangan ke Wilayah Negara Teluk
Pada 8 April, sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata menjelang tenggat rencana pengeboman pembangkit listrik Iran, media Iran melaporkan terjadinya serangan terhadap kilang minyak di Lavan dan ledakan di Kawasan Siri.
Baik Israel maupun AS menyatakan tidak terlibat dalam insiden tersebut. Tak lama setelah itu, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone yang sebagian besar diarahkan ke wilayah UEA, kemudian diikuti Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.
Menariknya, serangan tersebut tidak diarahkan ke Israel. Sejak perang dimulai, UEA disebut menjadi salah satu target serangan Iran paling besar setelah Israel.
UEA Tegaskan Hak Kedaulatan
Pemerintah UEA menegaskan hubungan luar negeri dan kemitraan pertahanan mereka dengan negara lain merupakan bagian dari hak kedaulatan yang tidak dapat diintervensi pihak mana pun.
Abu Dhabi juga menuding Iran berupaya menyesatkan komunitas internasional dengan mengeklaim wilayah dan ruang udara negara-negara Arab digunakan untuk memfasilitasi serangan terhadap Iran.
UEA memperingatkan tindakan Iran menyerang negara-negara Arab tetangga justru berpotensi memperkuat hubungan antara Israel dan negara-negara Arab yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.
Di luar konflik militer dan politik, hubungan Iran dan UEA juga diperumit oleh sengketa wilayah yang telah berlangsung puluhan tahun. UEA masih mengeklaim kepemilikan atas tiga pulau strategis di Selat Hormuz, yakni Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa, yang sejak 1971 berada di bawah kendali Iran.
Ketiga pulau tersebut dianggap sangat penting karena berada di jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia dan memiliki posisi strategis dalam mengontrol akses ke Selat Hormuz.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




