ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

AS Habiskan Rp 500 Triliun untuk Operasi Militer Lawan Iran

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:09 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Kapal perang tipe perusak (destroyer) supercanggih milik AS USS Zumwalt.
Kapal perang tipe perusak (destroyer) supercanggih milik AS USS Zumwalt. (Navy Lookout/Navy Lookout)

Washington, Beritasatu.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menghabiskan hampir US$ 29 miliar atau setara sekitar Rp 507 triliun untuk membiayai operasi militer melawan Iran yang terus berlangsung hingga saat ini.

Wakil Menteri Perang sekaligus Kepala Keuangan AS Jules W Hurst III mengatakan, nilai tersebut terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan operasional militer di lapangan.

“Pada saat kesaksian sebelumnya, jumlahnya US$ 25 miliar. Namun tim gabungan staf dan pengawas anggaran terus memperbarui estimasi itu, dan sekarang kami perkirakan mendekati US$ 29 miliar. Hal ini karena biaya perbaikan dan penggantian peralatan, serta biaya operasional umum untuk menjaga pasukan di lapangan,” kata Hurst dalam sidang Komite Anggaran Pertahanan DPR AS, Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dengan asumsi kurs Rp 17.500 per dolar AS, total biaya operasi tersebut mencapai sekitar Rp 507 triliun.

Konflik antara AS dan Iran memanas sejak 28 Februari 2026 ketika Washington bersama Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran.

Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil, yang kemudian dibalas Iran melalui serangan militer ke sejumlah titik strategis.

Eskalasi konflik tersebut sempat mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang mengalirkan sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Situasi itu memicu lonjakan harga energi internasional dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global.

Pemerintahan Presiden Donald Trump kemudian memperluas operasi militer dengan alasan menjaga stabilitas kawasan dan menekan kemampuan militer Iran.

Washington juga menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kapasitas ekonomi dan pertahanan Teheran.

Hurst menegaskan biaya perang masih berpotensi meningkat apabila konflik berlangsung lebih lama.

Pada sisi lain, pemerintah AS kini menghadapi tekanan fiskal yang semakin besar, sementara Kongres terus meminta transparansi penggunaan anggaran pertahanan di tengah tingginya biaya operasi militer tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon