ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PBB: 7,7 Juta Orang Hadapi Krisis Pangan di Sudan Selatan

Minggu, 10 April 2022 | 11:34 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Anak-anak di Sudan Selatan mengumpulkan biji-bijian setelah makanan jatuh dari pesawat Program Pangan Dunia (WFP) pada tahun 2020.
Anak-anak di Sudan Selatan mengumpulkan biji-bijian setelah makanan jatuh dari pesawat Program Pangan Dunia (WFP) pada tahun 2020. (AFP/Tony Karumba)

Roma, Beritasatu.com- Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan lebih dari 7,7 juta orang menghadapi krisis pangan di Sudan Selatan. Seperti dilaporkan Al Jazeera, Sabtu (9/4/2022), PBB menyatakan lebih dari dua pertiga penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Konflik bersenjata, banjir dan kekeringan di Sudan Selatan telah menyebabkan lebih dari 7,7 juta orang – sekitar 63 persen dari populasi – menghadapi krisis pangan.

Pada Sabtu (9/4), PBB dan pemerintah Sudan Selatan menyatakan bahwa kondisi cuaca ekstrem, peningkatan kekerasan bersenjata, dan jumlah pengungsi internal telah menyebabkan peningkatan kerawanan pangan, yang telah memburuk sejak tahun lalu.

Baca Juga: Bank Dunia Akan Beri Rp 1,43 Triliun untuk Bantu Korban Banjir di Sudan Selatan

ADVERTISEMENT

"Kami akan terus memiliki situasi yang kami miliki di Sudan Selatan jika kami tidak mulai melakukan transisi itu untuk memastikan perdamaian di tingkat masyarakat," kata Koordinator Kemanusiaan PBB di Sudan Selatan Sara Beysolow Nyanti.

Menurut laporan gabungan PBB dan pemerintah, populasi yang paling menderita kekurangan pangan terletak di negara-negara Unity, Jonglei, Upper Nile, Warrap, dan Equatorial Timur.

"Sampai konflik diatasi, kami akan terus melihat angka-angka ini meningkat karena itu artinya orang tidak memiliki akses yang aman ke tanah mereka untuk bercocok tanam. Kami mengimbau para pemimpin negara untuk terus menuju jalan perdamaian," kata Adeyinka Badejo, penjabat direktur negara Program Pangan Dunia (WFP) di Sudan Selatan.

Baca Juga: Banjir di Sudan Selatan Berdampak pada 623.000 Orang

Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan wakil presidennya, Riek Machar, sepakat pekan lalu untuk melanjutkan pembicaraan tentang mengintegrasikan pasukan saingan mereka di bawah komando terpadu setelah berminggu-minggu konflik meningkat.

Sudan Selatan terus mengalami ketidakstabilan sejak kemerdekaan pada tahun 2011. Kedua pemimpin tersebut telah dikritik oleh PBB atas peran mereka dalam kekerasan tersebut, serta karena mencekik kebebasan politik dan menjarah pundi-pundi nasional.

Baca Juga: Sudan Selatan Bantah Laporan Korupsi dari PBB

Konflik di Sudan Selatan tersebut telah menelan korban hampir 400.000 jiwa dan membuat jutaan orang mengungsi dari rumah mereka.

"Bulan lalu, PBB meluncurkan seruan internasional bagi Sudan Selatan untuk mengumpulkan bantuan US$ 1,7 miliar (Rp 24,4 triliun) yang diperlukan untuk memberikan bantuan darurat yang menyelamatkan jiwa untuk membantu jutaan orang hingga tahun 2022. Lebih dari dua pertiga populasi yakni hampir sembilan juta orang, membutuhkan bantuan kemanusiaan," kata PBB.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon