ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jelang Iduladha, Perajin Tusuk Satai di Klaten Kewalahan Layani Pesanan

Kamis, 13 Juni 2024 | 08:58 WIB
JL
BW
Penulis: Joko Laksono | Editor: BW
Iduladha menjadi berkah tersendiri bagi perajin tusuk satai di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Perajin yang merupakan pasangan suami istri lansia bernama Nandar (68) dan Paikem (65) itu kewalahan melayani pesanan, Kamis 13 Juni 2024.
Iduladha menjadi berkah tersendiri bagi perajin tusuk satai di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Perajin yang merupakan pasangan suami istri lansia bernama Nandar (68) dan Paikem (65) itu kewalahan melayani pesanan, Kamis 13 Juni 2024. (Beritasatu.com/Joko Laksono)

llKlaten, Beritasatu.com - Iduladha menjadi berkah tersendiri bagi perajin tusuk satai di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Perajin yang merupakan pasangan suami istri lansia bernama Nandar (68) dan Paikem (65) itu kewalahan melayani pesanan.

Mereka kebanjiran order pembuatan tusuk satai berbahan bambu sejak dua pekan terakhir. Permintaannya meningkat hingga 50 persen. Mereka kewalahan, bahkan harus lembur hingga malam hari.

Meski tenaga mereka sudah tidak sekuat dulu, pasutri lansia tersebut tampak bersemangat menyelesaikan satu per satu pesanan tusuk satai dari pemesannya.

ADVERTISEMENT

Dalam sehari, Paikem dan suaminya bisa memproduksi tusuk satai sebanyak 150 ikat. Namun, karena permintaan terus bertambah, khususnya menjelang Iduladha ini, mereka dapat memproduksi sebanyak 250 ikat tusuk satai per hari. Satu ikat berisi 30 tusuk satai.

“Meningkatnya sudah dua minggu ini, biasanya hanya 150 ikat saja, tetapi jelang Iduladha ini bisa 250 ikat,” kata Paikem saat ditemui Beritasatu.com, Kamis (13/6/2024).

Karena permintaan tinggi, ia bersama sang suami sempat kewalahan membuat tusuk satai. Mereka harus bekerja hingga pukul 20.00 WIB.

“Ya, saya pekerjaan berdua sama bapak saja .Selama dua minggu ini sampai pukul 20.00,” ujar dia.

Ia mengutarakan, meski permintaan mengalami peningkatan, untuk harga satu ikat tusuk satai tidak mengalami peningkatan. Harga masih sama dari sebelumnya, yakni Rp 2.000 untuk satu ikat berisi 30 biji.

“Harga tetap sama Rp 2.000 per ikat, dalam satu ikat ada 30 biji tusuk satai,” katanya.

Ia mengatakan, pesanan tidak hanya datang dari warga asal Klaten, tetapi juga datang dari daerah lain, seperti Semarang dan Kabupaten Sukoharjo.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon