ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kisah Pilu di Balik Banjir Pantura Semarang-Demak

Senin, 27 Oktober 2025 | 07:24 WIB
J
MI
S
S
Hujan deras yang mengguyur wilayah jalur Pantura Sayung, Demak, pada Minggu, 26 Oktober 2025 malam membuat genangan banjir kembali naik setelah sempat surut. Kondisi ini menyebabkan banyak sepeda motor mogok akibat kemasukan air, sedangkan antrean kendaraan kembali mengular di jalur nasional tersebut.
Hujan deras yang mengguyur wilayah jalur Pantura Sayung, Demak, pada Minggu, 26 Oktober 2025 malam membuat genangan banjir kembali naik setelah sempat surut. Kondisi ini menyebabkan banyak sepeda motor mogok akibat kemasukan air, sedangkan antrean kendaraan kembali mengular di jalur nasional tersebut. (Beritasatu.com/Jamaah)

Semarang, Beritasatu.com - Banjir setinggi lutut orang dewasa menutup hampir seluruh ruas Pantura Demak–Semarang. Di antara deru mesin truk yang tersendat dan motor mogok di tengah air, tampak warga berjalan kaki sambil menggandeng anak mereka. Jalan nasional yang seharusnya menjadi urat nadi perdagangan Jawa kini berubah menjadi sungai keruh tanpa arah.

Banjir hari kelima ini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Dampak sosial-ekonomi pun meluas. Beberapa pengendara motor terpaksa mogok dan terjebak dalam kemacetan hingga 4 jam, sementara warga dan sopir angkutan mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi akibat terganggunya aktivitas sehari-hari.

Pas lewat sini banjirnya saya kira sudah surut, malah makin tinggi. Padahal sebelumnya sudah muter jauh hindari banjir di Kaligawe, malah kena di sini,” ujarnya, Minggu (26/10/2025).

ADVERTISEMENT

Dari aspek sosial, banjir ini telah memicu krisis mobilitas masyarakat. Banyak pengendara motor harus mendorong kendaraannya yang mogok akibat terendam air setinggi 40-70 cm.

"Saya sudah terjebak di sini sejak tiga jam lalu, tidak bisa maju maupun mundur," keluh Slamet, salah seorang pengendara yang terjebak di ruas jalan Demak. Frustrasi warga semakin tampak dengan terhambatnya distribusi barang kebutuhan pokok dan terganggunya aktivitas pekerja harian.

Secara ekonomi, banjir ini berdampak pada terhambatnya arus distribusi logistik dan komoditas melalui jalur Pantura yang merupakan salah satu urat nadi perekonomian Jawa Tengah.

Bagi sopir truk dan pelaku usaha di jalur Pantura, waktu sama dengan uang. Setiap jam kendaraan tertahan berarti kerugian nyata. Truk-truk logistik pengangkut bahan pangan dari Jakarta menuju Jawa Timur terpaksa berhenti di pinggiran jalan, menunggu air turun.

“Beras, sayur, ayam, semua tertahan. Kalau enggak segera jalan, bahan bisa rusak,” keluh Darmono, pengusaha truk asal Surabaya saat dikonfirmasi, Senin (27/10/2025). Ia menghitung, dalam dua hari terakhir, kerugian perusahaannya sudah mencapai puluhan juta rupiah akibat keterlambatan pengiriman.

Banjir yang melanda kawasan Kaligawe memberikan dampak ganda bagi para pedagang. Pada satu sisi, mereka harus mempertahankan aktivitas berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun di sisi lain, omset mereka terus merosot baik saat berjualan di dalam pasar maupun di pinggir jalan.

Rini, salah satu pedagang, mengungkapkan kondisi yang dihadapinya selama tiga hari terakhir. "Kalau mau beli harus kebanjiran dulu, pada malas. Makanya jualan di sini sudah tiga hari, omsetnya menurun," ujarnya. Keluhan serupa disampaikan Wati, pedagang lain yang mengaku pendapatannya berkurang drastis akibat terhambatnya akses jalan.

Dari sisi pembeli, Zarokah, seorang warga, mengaku enggan masuk ke pasar dalam kondisi banjir. "Kalau banjir aksesnya enggak bisa, mau beli apa pun sulit. Kalau kita ada dana, mungkin stok di rumah ada. Kalau enggak ada dana, kita mencari belanja sedikit-sedikit," pungkasnya.

Situasi ini memaksa para pedagang harus memilih antara tetap berjualan di dalam pasar dengan risiko sepi pembeli, atau pindah ke jalan dengan omset yang tetap menurun. Kondisi ini memperparah dampak ekonomi dari banjir yang telah berlangsung beberapa hari di kawasan strategis Semarang tersebut.

Menanggapi krisis ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah koordinasi Gubernur Luthfi telah mengerahkan sejumlah langkah darurat. "Kami telah menyiapkan dapur umum untuk membantu warga terdampak dan menambah pompa air di titik-titik rawan," tegas Luthfi. Secara paralel, BNPB melakukan modifikasi cuaca untuk mengurangi curah hujan di wilayah Semarang dan Grobogan.

Untuk solusi jangka menengah, pemerintah menyiapkan normalisasi saluran air dan pengerukan sedimentasi di sunga-sungai utama. Sementara solusi jangka panjang akan difokuskan pada rehabilitasi hutan mangrove dan pembangunan tanggul penahan banjir rob di wilayah pesisir. "Kami berkomitmen menangani banjir ini secara komprehensif, mulai dari respons darurat hingga solusi berkelanjutan," pungkas Luthfi menegaskan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BMKG Ungkap Strategi Rahasia Cegah Banjir Semarang-Demak

BMKG Ungkap Strategi Rahasia Cegah Banjir Semarang-Demak

NASIONAL
Banjir di Kaligawe Semarang Akhirnya Surut, Ini Penampakannya

Banjir di Kaligawe Semarang Akhirnya Surut, Ini Penampakannya

JAWA TENGAH
Banjir Semarang Tak Surut, Warga Mulai Sakit dan Stok Makanan Menipis

Banjir Semarang Tak Surut, Warga Mulai Sakit dan Stok Makanan Menipis

JAWA TENGAH
Imbas Banjir Semarang, KA Argo Bromo Anggrek Terpaksa Memutar Jalur

Imbas Banjir Semarang, KA Argo Bromo Anggrek Terpaksa Memutar Jalur

JAWA TIMUR
Banjir Semarang Tewaskan 3 Orang, 63.400 Warga Terdampak

Banjir Semarang Tewaskan 3 Orang, 63.400 Warga Terdampak

JAWA TENGAH
Kementerian PU Buka Suara Soal Banjir Pantura Semarang-Pati

Kementerian PU Buka Suara Soal Banjir Pantura Semarang-Pati

JAWA TENGAH

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon