Nelayan Pekalongan Bingung Ada El Nino Godzilla Intai Laut Jawa
Minggu, 29 Maret 2026 | 22:02 WIB
Pekalongan, Beritasatu.com – Di tengah mencuatnya peringatan global mengenai fenomena iklim ekstrem El Nino Godzilla, para nelayan di Kota Pekalongan justru mengaku buta informasi. Mayoritas nelayan kecil hingga saat ini belum mendapatkan sosialisasi resmi terkait dampak buruk fenomena tersebut terhadap kondisi laut.
Subekhi (70), seorang nelayan tradisional yang telah melaut selama setengah abad, mengaku istilah tersebut terdengar sangat asing. Selama ini, ia hanya mengandalkan insting dan pengalaman untuk membaca tanda-tanda alam di tengah laut.
"Jujur saya tidak tahu dan tidak paham apa itu El Nino Godzilla, malah baru dengar istilah itu sekarang," ujar Subekhi saat ditemui di Pelabuhan Kota Pekalongan, Minggu (29/3/2026).
Bagi Subekhi, ancaman nyata harian adalah gelombang tinggi dan risiko tenggelam, bukan istilah ilmiah baru. Ia baru akan menahan diri untuk tidak melaut jika otoritas pelabuhan telah mengibarkan bendera hitam sebagai tanda bahaya.
Hal senada diungkapkan Robison (41), nelayan yang biasa melaut hingga jarak 10 mil. Meski melek teknologi dan sering memantau aplikasi cuaca, ia tetap merasa asing dengan istilah El Nino Godzilla dan berharap pemerintah segera turun tangan.
"Sejauh ini belum ada informasi atau sosialisasi yang disampaikan pemerintah maupun HNSI kepada kami. Kalau memang berdampak langsung, sebaiknya ada edukasi," ucap Robison.
Kurangnya informasi ini juga diamini oleh pengurus organisasi nelayan setempat. Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pekalongan, Zul Indra, menyebut pihaknya pun belum menerima penjelasan resmi dari pemerintah.
Zul Indra mengkhawatirkan dampak ekonomi yang akan memukul nelayan jika iklim ekstrem benar-benar terjadi tanpa persiapan. Apalagi, nelayan baru saja melewati masa sulit musim barat yang berlangsung selama empat bulan.
"Informasi yang akurat sangat penting bagi nelayan dalam mengambil keputusan di laut. Tanpa pemahaman, mereka berisiko menghadapi cuaca ekstrem tanpa persiapan memadai," tegas Zul.
Nelayan dan organisasi berharap adanya sistem peringatan dini yang lebih efektif dan mudah diakses. Bagi mereka, informasi cuaca bukan sekadar data, melainkan pegangan antara keselamatan dan bahaya saat mencari nafkah di tengah samudera.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




