Sering Minum Obat Pereda Nyeri? Hati-hati Efek Negatif Ini
Jumat, 19 Juni 2026 | 17:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Mengonsumsi obat pereda nyeri secara berlebihan ternyata dapat memicu sakit kepala berulang. Alih-alih mengobati rasa sakit, jika dikonsumsi tanpa pengawasan medis, justru dapat menimbulkan efek sebaliknya.
Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dr Ramdinal Aviesena Zairinal menjelaskan, penggunaan obat memiliki dua sisi. Jika digunakan sesuai anjuran dokter, obat dapat membantu meredakan gejala yang dialami. Tetapi jika dikonsumsi sembarangan dapat menyebabkan efek negatif bagi tubuh.
Menurut dokter yang akrab disapa Sena itu, kondisi tersebut dikenal sebagai medication-overuse headache (MOH) atau sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan.
“Konsumsi obat nyerinya tidak sesuai dengan anjuran dokter atau mengonsumsi jangka panjang. Contohny obat parasetamol, ibuprofen yang bisa beli bebas. Itu bisa menyebabkan kebalikannya, nyeri kepala yang disebabkan karena overuse atau kebanyakan konsumsi obat antinyeri kepala,” kata dr Sena, melansir Antara, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu penyebab kebiasaan berlebihan minum obat pereda nyeri di masyarakat umumnya adalah self-diagnose atau diagnosis mandiri tanpa berkonsultasi dengan dokter. Hal ini kerap dipicu oleh informasi yang beredar di media sosial.
Selain itu, dr Sena juga menyoroti kebiasaan sejumlah orang yang langsung membeli obat kembali tanpa konsultasi setelah resep pertama habis. Padahal, kondisi ini dapat membuat penggunaan obat tidak sesuai dosis yang dianjurkan, bahkan meningkat tanpa pengawasan dokter.
“Padahal nanti pada satu titik bisa saja keadaannya berbalik, justru konsumsi-konsumsi obat itulah yang menyebabkan sakit kepalanya justru enggak hilang-hilang,” tegasnya.
Ia memperingatkan, anggapan sakit kepala selalu bisa diatasi dengan obat jenis over the counter (OTC) atau bebas dibeli di toko atau warung adalah mitos belaka. Menurut dr Sena, sakit kepala tidak selalu disebabkan oleh migrain, tetapi bisa juga menjadi gejala kondisi serius seperti perdarahan otak yang memerlukan pemeriksaan medis yang tepat dan cepat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




