ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Atasi Polusi Udara, Indonesia Harus Belajar dari Thailand

Jumat, 11 Agustus 2023 | 18:03 WIB
B
FH
Penulis: BeritaSatu | Editor: FER
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Reliantoro, dalam jumpa pers terkait Polusi Udara Buruk di Wilayah Jabodetabek, Jumat, 11 Agustus 2023.
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Reliantoro, dalam jumpa pers terkait Polusi Udara Buruk di Wilayah Jabodetabek, Jumat, 11 Agustus 2023. (Beritasatu.com/Vinnilya Huanggrio)

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Reliantoro memaparkan kajian yang dilakukan terkait solusi Thailand dalam memperbaiki persoalan polusi udara.

"Kita juga belajar apa yang sebetulnya dilakukan di luar negeri untuk memperbaiki polusi udara, misalnya di Bangkok. Kota itu dahulu nomor satu pencemaran udaranya di dunia, tapi sekarang berhasil mengurangi," ujar Sigit Reliantoro dalam jumpa pers bertema "Polusi Udara Buruk di Wilayah Jabodetabek" di Jakarta, Jumat (11/8/2023).

Menurut Sigit, Thailand terbebas dari polusi udara berkat beberapa regulasi yang diterapkan oleh pemerintah, yang meliputi penerapan teknologi kendaraan bersih, meningkatkan program inspeksi, perawatan kendaraan, serta mengurangi kandungan sulfur dalam bahan bakar.

ADVERTISEMENT

"Selain itu, mereka melakukan pemanfaatan lahan dan sarana transportasi yang baik, serta pembatasan kendaraan bermotor. Itu yang dilakukan di Bangkok, untuk mengatasi permasahalan polusi," tutur Sigit.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, kata Sigit, Indonesia harus mengikuti beberapa rekomendasi itu. Misalnya, dengan beralih menggunakan kendaraan listrik, pengetatan standar emisi untuk transportasi umum dengan menggunakan standar Euro IV, serta pengadaan bus listrik untuk bus Transjakarta.

"Kemudian, lakukan uji emisi secara berkala. Lalu, kita semua harus mulai tidak menggunakan kendaraan pribadi tapi menggunakan kendaraan umum, konversi ke kompor listrik, kemudian pengendalian kebutuhan konstruksi dan pelarangan pembakaran sampah terbuka," bebernya.

Melalui rekomendasi ini, kata Sigit, pemerintah sudah melakukan banyak hal, khususnya mengenai pengadaan operasional kendaraan listrik dengan pemberian subsidi.

"Sudah dijalankan, tetapi kami juga mohon dukungan dari media massa ternyata minat kita untuk beralih ke kendaraan listrik masih belum begitu mendukung. Padahal, itu sudah sangat esensial dan mendesak untuk Jakarta," ucapnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Perbaiki Kualitas Udara, Transportasi Perkotaan Perlu Ditransformasi

Perbaiki Kualitas Udara, Transportasi Perkotaan Perlu Ditransformasi

NUSANTARA
Sampah hingga Limbah, Ini Deretan Masalah yang Kini Dihadapi KLH

Sampah hingga Limbah, Ini Deretan Masalah yang Kini Dihadapi KLH

NASIONAL
BMKG: Musim Kemarau dan Inversi Udara Picu Polusi Jabodetabek

BMKG: Musim Kemarau dan Inversi Udara Picu Polusi Jabodetabek

NASIONAL
Kasus ISPA di Palembang Melonjak, Polusi Udara Jadi Biang Kerok

Kasus ISPA di Palembang Melonjak, Polusi Udara Jadi Biang Kerok

LIFESTYLE
Anak Mulai Aktif Sekolah, Kemenkes Peringatkan Bahaya Polusi Udara

Anak Mulai Aktif Sekolah, Kemenkes Peringatkan Bahaya Polusi Udara

LIFESTYLE
Cerobong Asap Cemarkan Udara, Menteri Hanif Tutup Pabrik Baja

Cerobong Asap Cemarkan Udara, Menteri Hanif Tutup Pabrik Baja

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon