ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Evaluasi Haji 2025: Sistem Digital dan Kuota Jadi Sorotan DPR

Minggu, 8 Juni 2025 | 16:40 WIB
DM
DM
Penulis: Djibril Muhammad | Editor: DM
Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang (tengah) menyatakan, BPH dan Komisi VIII DPR membahas evaluasi haji 2025 di Mina, beberapa di antaranya, kuota lambat, sistem digital Nusuk, dan kualitas petugas.
Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang (tengah) menyatakan, BPH dan Komisi VIII DPR membahas evaluasi haji 2025 di Mina, beberapa di antaranya, kuota lambat, sistem digital Nusuk, dan kualitas petugas. (Beritasatu.com/Celvin Moniaga Sipahutar)

Mina, Beritasatu.com - Badan Penyelenggara Haji (BPH) dan Komisi VIII DPR menggelar pertemuan informal di Mina, Arab Saudi, untuk mengevaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2025. Sejumlah persoalan strategis dibahas, mulai dari sistem kuota hingga kesiapan petugas.

Pertemuan dihadiri Kepala BPH Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) dan Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang. “Gus Irfan datang silaturahmi sambil memantau keadaan. Kami berdiskusi soal penyelenggaraan haji 2026, dari penetapan kuota hingga kesiapan petugas,” kata Marwan, Minggu (8/6/2025).

Salah satu isu utama adalah lambatnya penetapan kuota dan nama-nama jemaah, yang menyebabkan tidak sinkronnya penanganan antarpenyelenggara atau syarikah. Bahkan, ada pasangan suami istri yang terpisah karena tergabung dalam syarikah berbeda.

ADVERTISEMENT

“Begitu tahu kuota dari Saudi, mestinya langsung kita tetapkan siapa yang berangkat. Kalau menunggu Panja Haji, terlalu lama,” tegas Marwan.

Komisi VIII membuka kemungkinan perubahan pola penetapan jemaah agar satu kloter bisa ditangani oleh satu syarikah demi efisiensi dan kenyamanan jemaah.

Marwan juga menyoroti penerapan sistem digital Nusuk, platform baru dari otoritas Saudi sebagai basis verifikasi keabsahan jemaah. Meski bertujuan baik, pelaksanaannya yang mendadak menimbulkan kebingungan di lapangan.

“Pihak Saudi maupun kita sama-sama gagap tetapi ini jadi pelajaran. Ke depan komunikasi harus lebih kuat,” kata Marwan.

Pada akhirnya, sistem Nusuk mulai dilonggarkan menjelang keberangkatan, dengan mengizinkan perwakilan jemaah mengurus administrasi, tidak lagi satu per satu.

Persoalan lain yang dibahas adalah keterlambatan transportasi bus akibat padatnya checkpoint menuju Armuzna (Arafah-Muzdalifah-Mina). Ini dinilai menjadi tantangan besar yang perlu dikaji ulang dalam penyusunan teknis operasional ke depan.

Tak kalah penting, Marwan menekankan pentingnya peningkatan kualitas petugas haji. Ia meminta agar petugas direkrut berdasarkan seleksi ketat dan mengikuti pelatihan intensif minimal tiga bulan. “Petugas jangan asal rekrut. Harus ikut diklat dan simulasi kondisi riil supaya paham taktik di lapangan,” ujar Marwan.

Evaluasi ini akan menjadi bahan penting dalam merancang penyelenggaraan haji 2026, termasuk percepatan sistem kuota, sinkronisasi syarikah, penyempurnaan teknologi digital, serta peningkatan mutu layanan bagi jemaah Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kemenhaj Perketat Cegah Haji Nonprosedural, 80 WNI Batal Berangkat

Kemenhaj Perketat Cegah Haji Nonprosedural, 80 WNI Batal Berangkat

NASIONAL
Asrama Haji Sukolilo Heboh, Jemaah Demensia Berontak Ingin Pulang

Asrama Haji Sukolilo Heboh, Jemaah Demensia Berontak Ingin Pulang

JAWA TIMUR
Kemenhaj dan Arab Saudi Rutin Bertemu Bahas Kesiapan Haji 2026

Kemenhaj dan Arab Saudi Rutin Bertemu Bahas Kesiapan Haji 2026

NASIONAL
Mekkah Punya Wajah Baru yang Siap Menampung 900.000 Jemaah

Mekkah Punya Wajah Baru yang Siap Menampung 900.000 Jemaah

INTERNASIONAL
Temui Jaksa Agung, Menhaj Minta Pendampingan Cegah Korupsi Haji

Temui Jaksa Agung, Menhaj Minta Pendampingan Cegah Korupsi Haji

NASIONAL
Menag: Kepuasan Jemaah Haji 2025 Meningkat Dibandingkan Tahun Lalu

Menag: Kepuasan Jemaah Haji 2025 Meningkat Dibandingkan Tahun Lalu

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon