Menelusuri Sejarah Pesantren, Warisan Islam sejak Abad Ke-14
Selasa, 21 Oktober 2025 | 17:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perjalanan penyebaran Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran sentral pondok pesantren.
Lembaga pendidikan ini merupakan model khas pendidikan Islam tertua di Indonesia yang telah eksis jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak masa kerajaan-kerajaan Islam.
Sebagai sarana dakwah dan pusat intelektual Islam, sejarah pondok pesantren di Indonesia memiliki akar yang sangat dalam dan diyakini telah lahir sekitar abad ke-14.
Dikutip dari Kementerian Agama RI, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam khas Indonesia dengan tujuan mencetak calon ulama dan pendakwah. Para lulusan diharapkan mampu menyebarkan ajaran Islam, mendirikan pesantren baru, dan membina umat di berbagai daerah.
Asal-usul dan Perintis Pendidikan Abad Ke-14
Literatur mengenai asal mula pesantren di Indonesia bervariasi. Sebagian sumber menyebutkan model pendidikan ini sudah ada sejak 1062 M di Pamekasan, Madura, berdasarkan catatan tentang Pesantren Jan Tampes II, meskipun klaim ini masih diragukan.
Ada pula yang menyebut pesantren pertama berdiri pada 1359 oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), seorang ulama asal Gujarat, India. Ia diyakini sebagai pendiri pondok pesantren pertama di Pulau Jawa.
Banyak sumber menyepakati sistem pendidikan pesantren muncul sekitar abad ke-14. Hal ini diperkuat oleh Babad Demak, literatur klasik Jawa, yang menyebutkan perkembangan pesantren di masa Raden Rahmat (Sunan Ampel), bertepatan dengan pemerintahan Prabu Kertawijaya dari Kerajaan Majapahit.
Model pendidikan pesantren diduga mengadaptasi tradisi pendidikan agama Hindu-Buddha di Nusantara. Pada masa itu, para biksu dan pendeta Brahmana mendirikan tempat khusus untuk mendidik calon pemimpin agama.
Sunan Gresik melihat kebiasaan masyarakat Jawa yang suka menetap di tempat guru mereka menimba ilmu. Dari kebiasaan ini, ia membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pondok pesantren sebagai tempat bermukim santri. Pesantren tersebut kemudian menjadi lembaga pendidikan Islam pertama di Tanah Jawa.
Era Wali Songo dan Cikal Bakal Lembaga Pendidikan Islam
Istilah pesantren mulai populer pada masa Wali Songo, khususnya melalui peran besar Sunan Ampel yang mendirikan padepokan di Ampel, Surabaya.
Tempat ini berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam di Jawa dan menarik banyak santri dari berbagai wilayah, termasuk luar Pulau Jawa, seperti Gowa dan Tallo di Sulawesi.
Perkembangan pesantren kemudian diteruskan oleh santri-santri Sunan Ampel, seperti Sunan Giri, pendiri Pesantren Giri Kedaton. Dari sinilah lahir tokoh-tokoh penting, termasuk Raden Patah, santri Sunan Giri yang kemudian menjadi raja pertama Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.
Struktur Pendidikan dan Keilmuan di Pesantren
Dalam sistem pesantren tradisional, Kiai berperan sebagai pemimpin dan pengajar utama. Ia dibantu oleh badal kiai (asisten) serta para ustaz/ustazah yang mengajar sesuai bidang keahliannya.
Bidang ilmu yang diajarkan di pesantren meliputi:
- Ilmu keislaman dasar: Tauhid, fikih, akhlak, tafsir, dan hadis.
- Bahasa dan sastra: Nahu, sharf, dan arudl.
- Ilmu lain: Ushul fikih, tilawah, tahfiz, hisab, dan filsafat Islam.
Para santri terbagi menjadi tiga kategori:
- Santri mukim, tinggal di dalam pondok.
- Santri nonmukim, belajar dari luar pondok.
- Santri musiman, datang pada waktu tertentu, misalnya saat Ramadan.
Masa Kolonial dan Peran Pesantren dalam Perjuangan
Pada masa penjajahan Belanda, pesantren mengalami tekanan hebat. Pemerintah kolonial menerapkan politik pendidikan represif, termasuk Ordonansi Sekolah Liar (Wilde School Ordonantie), yang membatasi madrasah dan lembaga pendidikan Islam nonformal.
Belanda juga melarang pengajaran beberapa kitab Islam karena khawatir ajarannya memicu perlawanan rakyat. Namun, pesantren tetap bertahan dan justru berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan. Kaum santri ikut berjuang di medan pertempuran, dan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan fatwa jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian, pondok pesantren bukan hanya pusat pendidikan Islam, tetapi juga menjadi benteng spiritual dan simbol perjuangan nasional bagi bangsa Indonesia.
Melalui sejarah panjangnya, pondok pesantren di Indonesia telah menjadi fondasi penting dalam penyebaran Islam, pembentukan karakter bangsa, dan pembangunan moral masyarakat.
Hingga kini, pesantren terus berkembang, menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi tetap menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang menjadi warisan para pendahulunya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




