Apresiasi Huntara Sumatera, UGM Ingatkan Ancaman Bencana Susulan
Selasa, 6 Januari 2026 | 16:04 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com - Pakar kebencanaan sekaligus guru besar teknik geologi dan lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dwikorita Karnawati, mengapresiasi progres pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Menurut Dwikorita, pembangunan Huntara merupakan langkah penting dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Alasannya memungkinkan para pengungsi segera menempati hunian yang lebih layak dibandingkan tempat pengungsian darurat.
Namun demikian, ia menegaskan keberhasilan pembangunan Huntara tidak boleh hanya diukur dari capaian fisik semata. Aspek keselamatan dan keamanan bagi seluruh pihak yang terlibat, baik pengungsi maupun pekerja, harus menjadi prioritas utama, mengingat potensi bencana susulan masih cukup tinggi.
“Progres Huntara patut diapresiasi. Namun, yang jauh lebih penting adalah memastikan seluruh penduduk, pengungsi, dan para pekerja yang terlibat dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi berada dalam kondisi aman serta mendapatkan suplai logistik yang memadai,” ujar Dwikorita di Yogyakarta, Senin (5/1/2026).
Ia menekankan, rumah dan infrastruktur yang dibangun harus dipastikan berada di lokasi aman, jauh dari ancaman longsor, banjir bandang, maupun banjir susulan. Risiko tersebut dinilai masih tinggi seiring musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Maret-April 2026.
“Jika aspek keamanan lokasi diabaikan, risiko korban jiwa tetap terbuka. Selain itu, akses transportasi dan distribusi logistik bisa terputus, serta infrastruktur yang sudah dibangun berpotensi kembali rusak,” tegasnya.
Dwikorita juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana yang dijalankan secara paralel dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Menurutnya, pemulihan lingkungan merupakan langkah krusial meski membutuhkan waktu panjang, karena berperan besar dalam menekan risiko bencana berulang.
“Kalau pemulihan lingkungan tidak berhasil, periode ulang bencana bisa semakin cepat dengan magnitude yang jauh lebih dahsyat,” jelasnya.
Selain itu, ia mendorong dilakukannya inspeksi wilayah hulu sungai berbasis teknologi, pemetaan ulang zona rawan bencana, pembangunan sistem peringatan dini, serta edukasi kebencanaan berkelanjutan bagi masyarakat.
Dwikorita menegaskan, seluruh pembangunan pascabencana harus berlandaskan prinsip build back better, agar masyarakat tidak kembali menjadi korban akibat bencana serupa di masa mendatang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




