Kenapa Yasin Dibaca 3 Kali Saat Malam Nisfu Syaban? Ini Alasannya
Senin, 2 Februari 2026 | 12:21 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Malam Nisfu Syaban membaca surah Yasin tiga kali merupakan salah satu amalan yang kerap dilakukan umat muslim saat memasuki pertengahan bulan Syaban atau Syakban.
Tradisi spiritual ini telah lama hidup di tengah masyarakat sebagai bentuk ikhtiar memperbanyak ibadah, memohon keberkahan hidup, serta mengharap ampunan Allah Swt pada momen yang diyakini sarat rahmat.
Meski tidak seluruh umat Islam memahami asal-usulnya secara mendalam, praktik membaca Yasin tiga kali tetap menjadi bagian penting dalam penghayatan malam Nisfu Syaban.
Bagi sebagian kalangan, amalan ini dipandang sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah menjelang bulan Ramadan.
Apa Itu Malam Nisfu Syaban?
Malam Nisfu Syaban adalah malam ke-15 bulan Syaban dalam kalender Hijriah yang tahun ini jatuh pada Selasa (3/2/2026). Malam ini kerap diyakini memiliki keutamaan tersendiri dan menjadi momentum refleksi spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Banyak ulama dan masyarakat muslim memandang Nisfu Syaban sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak doa, zikir, serta memohon ampunan kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, malam ini sering diisi dengan berbagai amalan sunah, baik secara berjemaah maupun sendiri.
Dalil Hadis tentang Keutamaan Malam Nisfu Syaban
Keutamaan malam Nisfu Syaban disebutkan dalam beberapa riwayat hadis. Salah satunya diriwayatkan dari Abu Bakar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Allah Swt turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban dan mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik dan orang yang di dalam hatinya ada rasa benci”. (HR Al-Baihaqi)
Hadis ini sering dijadikan dasar oleh para ulama dalam menjelaskan keutamaan malam Nisfu Syaban, meskipun terdapat perbedaan pendapat terkait tingkat kekuatannya.
Namun secara umum, para ulama membolehkan menghidupkan malam ini dengan berbagai bentuk ibadah selama tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan syariat.
Asal-usul dan Hukum Tradisi Baca Yasin 3 Kali di Malam Nisfu Syaban
Tradisi membaca surah Yasin tiga kali pada malam Nisfu Syaban tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih. Amalan ini berkembang di kalangan umat Islam, terutama di lingkungan pesantren dan komunitas keagamaan, sebagai bentuk pengayaan ibadah sunah.
Anjuran membaca Yasin tiga kali lebih bersifat tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama, khususnya di Indonesia. Praktik ini tidak diposisikan sebagai ibadah yang disyariatkan secara khusus, melainkan bagian dari amalan sunah mutlak.
Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan tidak ada larangan mengiringi amal saleh dengan doa dan permohonan, baik terkait urusan dunia maupun akhirat, selama dilakukan dengan niat yang benar.
Membaca surah Yasin atau surah lain dengan niat ikhlas untuk memohon keberkahan umur, rezeki, dan kesehatan hukumnya diperbolehkan, selama tidak diyakini sebagai amalan yang memiliki ketentuan syariat khusus dengan tujuan tertentu.
Surah Yasin dipilih karena memiliki kedudukan istimewa dalam Al-Qur’an. Dalam sejumlah kitab hadis dan tafsir, surah ini dikenal sebagai jantung Al-Qur’an karena memuat pokok-pokok ajaran tentang tauhid, risalah kenabian, kehidupan akhirat, serta tanggung jawab manusia secara ringkas dan mendalam.
Dalam Fadhail Al-Qur’an karya Imam At-Tirmidzi disebutkan membaca surah Yasin memiliki keutamaan pahala yang besar. Sementara itu, Wahbah Az-Zuhaily dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan surah Yasin mengandung pesan tentang kehidupan, kematian, kebangkitan, dan keimanan, sehingga relevan dibaca pada malam perenungan spiritual seperti Nisfu Syaban.
Atas dasar inilah, para ulama tradisional menjadikan surah Yasin sebagai bacaan utama dalam amalan malam pertengahan Syakban.
Tata Cara Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali
Amalan membaca Yasin tiga kali pada malam Nisfu Syaban umumnya dilakukan setelah salat Magrib hingga sebelum Isya. Pembacaan dilakukan secara berurutan dengan niat yang berbeda pada setiap bacaan.
Urutan niat yang lazim diamalkan sebagai berikut ini:
- Bacaan Yasin pertama diniatkan untuk memohon umur panjang yang diberkahi serta keteguhan dalam ketaatan kepada Allah Swt.
- Bacaan Yasin kedua dimaksudkan untuk memohon perlindungan dari bala, musibah, dan kesulitan hidup, sekaligus meminta rezeki yang halal dan baik.
- Bacaan Yasin ketiga difokuskan untuk memohon kekayaan iman, keteguhan hati, dan akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah.
Meskipun tidak bersifat wajib, amalan ini diyakini membawa manfaat spiritual, antara lain meningkatkan kekhusyukan ibadah, memperbanyak doa, serta menghadirkan ketenangan batin.
Amalan Lain pada Malam Nisfu Syaban
Selain membaca Yasin, terdapat beberapa amalan lain yang kerap dilakukan umat Islam pada malam Nisfu Syaban. Mengacu pada buku Keagungan Rajab & Syaban karya Abdul Manan bin Haji Muhammad Sobari, amalan tersebut antara lain:
- Melaksanakan salat Magrib secara berjemaah.
- Mengerjakan salat sunah Nisfu Syaban.
Terkait salat Nisfu Syaban, hukumnya masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkan, sebagian lainnya tidak menganjurkan. Sebagai jalan tengah, Ustadz Zainul dikutip dari laman NU Online menjelaskan, salat tersebut boleh dilakukan dengan niat salat sunah mutlak.
- Memperbanyak doa dan zikir
Dalam buku Keutamaan dan Ibadah Malam Nisfu Syaban karya Muhammad Juriyanto disebutkan sahabat Nabi SAW menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan doa dan zikir. Riwayat Sa’id bin Manshur juga menyebut malam ini sebagai malam penuh rahmat dan ampunan, kecuali bagi orang musyrik dan pemutus silaturahmi.
Doa Malam Nisfu Syaban
Doa Nisfu Syaban dapat dibaca secara berjemaah maupun sendiri. Doa ini berisi permohonan agar Allah menghapus catatan keburukan, melapangkan rezeki, memberikan keberkahan hidup, serta meneguhkan iman dan amal kebaikan hingga akhir hayat.
- Doa untuk berjemaah:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنَا عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيْنَا فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتَنَا وَحِرْمَانَنَا وَاقْتِتَارَ رِزْقِنَا، وَاكْتُبْنَا عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu 'alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in'ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma'manal khā'ifīn. Allāhumma in kunta katabtanā 'indaka fī ummil kitābi asyqiyā'a au mahrūmīna au muqattarīna 'alaynā fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatanā, wa hirmānanā waqtitāra rizqinā, waktubnā 'indaka su'adā'a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali 'ala lisāni nabiyyikal mursali "Yamhullāhu mā yasyā'u wa yutsbitu wa 'indahū ummul kitāb." Wa shallallāhu 'alā sayyidinā Muhammadin wa 'alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil 'ālamīn.
Artinya: "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Engkau mencatat kami di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezeki kami.
Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufik untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar di kitab-Mu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh. Allah berselawat dan bersalam atas Sayyidina Muhammad SAW, keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam".
- Doa untuk sendirian:
اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu 'alaik, yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in'âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma'manal khâ'ifîn. Allâhumma in kunta katabtanî 'indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran 'alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî 'indaka sa'îdan marzûqan muwaffaqan lil khairât. Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal 'alâ lisâni nabiyyikal mursal, "yamhullâhu mâ yasyâ'u wa yutsbitu, wa 'indahû ummul kitâb" wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil 'alamîn.
Artinya: "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Engkau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku.
Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufik untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar di kitab-Mu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh. Semoga Allah memberikan selawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah Swt".
Nisfu Syaban baca Yasin tiga kali bukan sekadar ritual tradisi, melainkan momentum spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, memperbanyak doa, dan mempersiapkan hati menyambut Ramadan. Meski tidak termasuk ibadah wajib atau amalan khusus yang disyariatkan secara eksplisit, praktik ini tetap dianjurkan oleh sebagian ulama sebagai bagian dari ibadah sunah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




