ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

SBY Kenang Pengiriman TNI ke Lebanon hingga Risiko Misi Perdamaian

Senin, 6 April 2026 | 12:19 WIB
S
S
Penulis: Sukarjito | Editor: JTO
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri undangan Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta.
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri undangan Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta. (Beritasatu.com/Ricki)

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Interim Force in Lebanon / UNIFIL) di Lebanon akibat serangan Israel.

SBY hadir langsung memberikan penghormatan terakhir kepada Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Menurut SBY, kepergian ketiga prajurit tersebut bukan hanya kehilangan bagi institusi militer, tetapi juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan bangsa Indonesia.

“Saat saya memberikan penghormatan terakhir, hati saya sangat tergetar. Prajurit memang disumpah untuk siap berkorban, tetapi duka keluarga yang ditinggalkan begitu terasa,” ujar SBY melalui akun X pribadinya, Senin (6/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia mengaku turut merasakan kesedihan keluarga korban, terutama istri, anak, dan orang tua yang melepas kepergian para prajurit dengan penuh haru.

SBY juga mengenang awal keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon pada 2006. Saat itu, ia mendorong pengiriman pasukan setelah konflik Israel-Hizbullah pecah.

Ia menyebut kontingen pertama Indonesia, Garuda XXIII/A, diisi oleh sejumlah perwira muda yang kini berkiprah di pemerintahan.

“Kontingen Garuda XXIII/A yang berangkat pada 2006 di antaranya diisi oleh Agus Harimurti Yudhoyono, Muhammad Iftitah Sulaiman, dan Ossy Dermawan,” ungkapnya.

SBY menegaskan, keputusan mengirim pasukan ke Lebanon diambil sebagai bentuk tanggung jawab Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.

Namun, ia menyoroti kondisi terkini di Lebanon yang dinilai semakin berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian. Wilayah yang seharusnya menjadi zona aman kini berubah menjadi area konflik aktif.

“Pasukan kita bertugas di wilayah Blue Line, tetapi kenyataannya sekarang berada di zona perang yang setiap saat berisiko tinggi,” tegasnya.

SBY juga menyatakan dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang meminta PBB melakukan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.

“Saya mendukung pemerintah mendesak PBB melakukan penyelidikan secara serius, jujur, dan adil. Indonesia berhak mendapatkan penjelasan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya jaminan keselamatan bagi personel penjaga perdamaian dan meminta PBB mengambil langkah tegas, termasuk evaluasi penugasan di wilayah konflik.

Menutup pernyataannya, SBY menyampaikan pesan kepada prajurit Indonesia yang masih bertugas di Lebanon agar tetap menjalankan tugas dengan baik sekaligus menjaga keselamatan diri.

“Laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan jaga diri. Keluarga menanti kepulangan kalian di Tanah Air,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon